NUIM HIDAYAT

Hancurnya Peradaban Barat (Amerika dan Israel)

Tragedi genosida Gaza ini menunjukkan bahwa peradaban Barat sebenarnya telah hancur. Bangsa-bangsa mereka memang belum hancur, tapi nilai-nilai mereka yang hancur. Barat tidak bisa lagi memberikan teladan kepada manusia. Barat tidak bisa lagi memberikan nilai-nilai yang bermanfaat kepada manusia.

Israel (dan Amerika) kini dicap sebagai bangsa yang terbengis di dunia. Bangsa yang tidak mengenal arti kemanusiaan. Bangsa yang bertindak semena-mena terhadap bangsa lain. Bangsa yang hanya mengandalkan kekuatan senjata untuk menindas bangsa lain. Bangsa yang kehilangan fitrahnya.

Hancurnya peradaban Barat sebenarnya telah mulai sejak invasi Amerika menyerang Irak pada 2003 silam. Saat itu Amerika beralasan bahwa penyerbuan mereka ke Irak, karena Irak mempunyai senjata pemusnah massal yang bisa membahayakan bangsa-bangsa di sekitarnya.

Tapi diketahui setelah Amerika menghancurkan Irak (dengan jumlah korban lebih dari 500 ribu orang), Amerika tidak mendapatkan senjata pemusnah massal itu. Amerika menyembunyikan niat sebenarnya invasinya ke Amerika itu. Yaitu ingin mengusai sumberdaya minyak di Irak. Minyak di Irak menurut para ahli, menempari ranking nomer dua setelah Arab Saudi.

Baca juga:
Dosa-Dosa Amerika
Hancurnya Nilai-Nilai Amerika

Nafsu imperialisme Amerika dan Israel adalah sama. Mereka ingin memaksakan nilai-nilai yang dianutnya ke bangsa lain. Apabila bangsa lain tidak menuruti mereka, maka bangs aitu dihancurkannya. Itulah yang dilakukan Israel di Gaza. Itulah yang dilakukan Amerika ke Irak dan Afghanistan.

Nilai-nilai Amerika-Israel, seperti menghidupkan LGBT, demokrasi liberal, kebebasan seks (pornografi), bolehnya bohong, kebebasan mutlak pada manusia dan lain-lain, kini disadari banyak manusia nilai-nilai itu bukan memperbaiki manusia tapi justru merusak manusia.

Al-Qur’an menyebut kematian sebuah bangsa atau umat. Renungkanlah ayat Al-Qur’an ini, “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat ataupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Yunus : 49)

Dalam ayat ini Al-Qur’an menyebut kematian umat atau bangsa. Bisa juga dimaknai sebagai kematian sebuah peradaban.

Sayyid Quthb menafsirkan ayat ini dengan menekankan konsep tauhid dan ketundukan total kepada kehendak Allah. Berikut intinya:

  1. Penegasan bahwa Rasul hanyalah manusia, bukan penguasa takdir.

Nabi Muhammad ﷺ tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudarat bagi dirinya sendiri — apalagi bagi orang lain. Semua berada di bawah kekuasaan mutlak Allah.

Ini merupakan bantahan terhadap kaum musyrik yang menuntut Nabi agar mendatangkan azab atau mukjizat tertentu sesuai keinginan mereka. Allah memerintahkan beliau menjelaskan keterbatasannya sebagai hamba.

  1. Setiap umat memiliki ajal (masa keberadaan dan kebangkitannya).

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa sebagaimana individu memiliki ajal kematian, umat atau peradaban juga memiliki masa hidup. Bila masa itu berakhir karena penyelewengan, kedzaliman, atau penolakan terhadap kebenaran, maka tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menundanya.

Inilah sunnatullah dalam sejarah manusia — hukum Allah yang tetap: “Apabila ajal mereka tiba, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun, dan tidak pula memajukannya.”

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button