IBRAH

Ruang Sosial Berubah, Jati Diri Berganti?

Oleh: Putri Eka Hidayatul Nurrohmah*

Di zaman ini, pakaian bukan hanya sekadar kebutuhan primer, tetapi juga menjadi bahasa sosial yang memiliki makna. Tak sedikit orang menciptakan makna tersendiri di setiap pakaian yang dikenakan.

Namun, makna itu akan berubah menyesuaikan lingkungannya. Misalnya seorang santri yang tinggal di pondok pesantren ketika memakai celana cutbray hitam dipadukan dengan atasan wisspie berwarna coklat dan berkerudung pashmina coklat susu, maka penampilan itu akan terkesan terlalu mencolok dan tidak sesuai dengan kultur kesantrian.

Berbeda halnya ketika seorang santri memakai abaya mahogany dipadukan dengan kerudung pashmina ivory, maka penampilan itu pasti dianggap anggun dan santun serta sangat fashionable.

Makna pakaian seperti itu tadi akan berubah ketika ruang sosialnya juga berubah. Jika pakaian cutbray dengan atasan wisspie tersebut digunakan di lingkungan kampus umum, maka bagi sebagian orang penampilan tersebut justru dianggap sangat menarik dan mengikuti zaman.

Begitu juga sebaliknya, penampilan mengenakan abaya akan dinilai sebagai penampilan yang terlalu dewasa atau identik dengan kalangan ibu-ibu dan pengajar agama juga sedikit kurang mengikuti zaman.

Bahkan ada pula yang menilai dan mengaitkannya dengan sosok-sosok keagamaan seperti bunyai atau ustazah. Dari perbedaan makna pakaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor utama nya adalah ruang sosial atau lingkungan.

Fenomena seperti ini terbukti dari banyaknya kasus nyata. Kini banyak mahasiswi lulusan pondok pesantren yang melanjutkan belajar nya ke kampus terutama kampus umum, maka akan banyak perubahan darinya.

Dia akan jarang bahkan tidak pernah memakai pakaian-pakaian yang biasa ia kenakan di pondok pesantren, karena merasa makna pakaian yang ia kenakan di pondok pesantren akan memiliki makna yang berbeda ketika ia kenakan di dunia kampus. Dalam benaknya, mereka akan berpikir bahwa memakai pakaian khas pesantren akan menimbulkan pandangan yang berbeda dari orang lain.

Mereka akan jarang sekali atau bahkan tidak pernah terlihat berpakaian syar’i, seperti mengenakan abaya atau jubah. Karena bagi mereka jubah atau abaya memiliki kesan seperti ke “ibu-ibu nyai” an atau ke “alim-alim an”. Mereka pun akan lebih memilih gaya berpakaian mengikuti zaman, atau yang biasa disebut dengan outfit kalcer.

Contoh kejadian nyata fenomena ini terjadi pada temanku, sebut saja namanya Rara. Rara adalah seorang mahasiswi lulusan pesantren salaf Qur’ani yang sedang berkuliah sama sepertiku.

Suatu hari dia memakai pakaian yang biasa ia kenakan di pondok pesantren. Dan saat itu kebetulan dia sedang bersamaku, namun tiba-tiba dia menatapku dan bertanya “apakah aku terlihat seperti ibu-ibu?” Pertanyaan itu diucapkannya dengan nada ia mulai meragukan penampilannya sendiri.

Tidak berhenti pada pertanyaan tersebut, ada beberapa temanku yang lain justru menanggapinya dengan kalimat “masyaallah, ada bu nyai” atau kalimat “sungkem ustazah”, yang membuat dia semakin merasa malu dan tidak percaya diri dengan pakaian yang ia kenakan.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button