Semarak Acara Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS: Bincang Konsep Pendidikan Terbaik
Jakarta (SI Online) – Acara Temu Ilmiah Akhir Tahun yang dilaksanakan di markas Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (06/12) berlangsung meriah. Sekitar 100 orang hadir dalam diskusi yang menampilkan para pakar pendidikan itu.
Diskusi dimulai dengan pemaparan dari Direktur Utama INSISTS Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Dalam presentasinya yang bertajuk “Pendidikan Holistik Pondok Pesantren”, ia tidak hanya mendudukkan pesantren sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai sebuah sistem peradaban mini.
Dengan menjadikan Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai referensi utama (living model), ia menawarkan konsep pendidikan manusia seutuhnya (holistic education) yang jauh lebih orisinal dan integral dibandingkan konsep serupa dari Barat maupun Timur.
Prof. Hamid membuka wawasan dengan membandingkan konsep holistik global. Di Jepang, pendidikan holistik dimaknai dengan pelibatan fisik murid dalam aktivitas sekolah—seperti menyapu, bercocok tanam, dan seni—di luar jam akademik. Sementara di Barat, definisi holistik (seperti pandangan Miller dan Forbes) berfokus pada pengembangan intelektual, emosional, fisik, dan spiritual.
Namun, terdapat cacat epistemologis dalam konsep “spiritual” Barat. Spiritualitas di sana sering kali dipisahkan dari agama, terjebak pada aktivitas kontemplatif seperti yoga yang dianggap “tidak menghasilkan apa-apa” dalam tatanan amal sosial nyata. Sebaliknya, seorang profesor asing yang mengamati Gontor justru mengakui bahwa pesantren di Indonesia lebih holistik daripada Jepang. Mengapa? Karena di pesantren, spiritualitas itu mewujud nyata dalam perbuatan dan adab sehari-hari, bukan sekadar meditasi sunyi.

Merujuk pada model Gontor, Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo itu, menegaskan, kurikulum adalah segala aktivitas yang dilihat, didengar, dan dirasakan santri selama 24 jam. Ini sejalan dengan konsep bahwa pendidikan dalam Islam bukan sekadar transfer of knowledge, melainkan ta’dib (penanaman adab).
Merujuk pada pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ibnu Qayyim, adab adalah inti agama. Maka, sains, matematika, dan keterampilan umum di pesantren tidak berdiri sendiri, melainkan diikat oleh worldview Islam. Di sinilah letak kuncinya: pikiran diisi dengan Ilmu (Syariah dan Sains), hati diisi dengan Iman dan Akidah serta Fisik /Motorik digerakkan oleh Amal dan Akhlak.
Sementara itu, Direktur Eksekutif INSISTS Dr. Henri Shalahuddin membuka wawasan dengan kegelisahan mendalam: semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, justru semakin rapuh bangunan sosialnya. Fenomena “semakin terpelajar, semakin takut menikah” menunjukkan bahwa pendidikan hari ini, alih-alih mendewasakan, justru “memperpanjang masa kanak-kanak”.
Ia memperlihatkan anomali yang mencolok. Angka Melek Huruf (AMH) meningkat tajam, namun “Angka Melek Pasangan” (kesiapan berumah tangga) justru rendah, ditandai dengan antrean gugatan cerai yang mengular. Lebih tragis lagi, di beberapa daerah seperti Kupang dan Ponorogo, angka penularan HIV/AIDS dan kehamilan di luar nikah justru menyasar kalangan pelajar terpelajar.
Dalam kacamata Islamic Worldview, ini adalah gejala akut dari kerusakan ilmu (corruption of knowledge). Pendidikan sekular hari ini telah membuang nilai sakral dari tubuh manusia. Maksiat “diwajarkan” dengan dalih HAM, Friends with Benefits (FWB), dan Otonomi Tubuh. Solusi yang ditawarkan pun bersifat teknis-ateistik: Sexual Consent (persetujuan seksual) dan pembagian alat kontrasepsi, seolah-olah zina itu boleh asalkan “suka sama suka” dan “aman”.
Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas otaknya namun buta hatinya. Henri menyebutnya sebagai budaya kemunafikan yang berujung pada kriminalitas. Pendidikan yang hanya mengejar keterampilan teknis (skill) tanpa penanaman adab hanya akan melahirkan koruptor yang terampil membocorkan uang negara lewat “Pusdiklat”. Mereka cerdas secara angka, tapi bodoh secara makna.
Akar masalahnya ada pada penyempitan makna ilmu. Hari ini, ilmu direduksi hanya menjadi “informasi” dan data empiris. Padahal, merujuk pada Imam Al-Ghazali dalam Al-Iqtishad fil I’tiqad, ilmu seharusnya mengantarkan pada pengenalan akan Zat Yang Maha Tahu.






