AKHLAK

Akhlak Islami: Berakar dari Iman dan Berpedoman pada Al-Qur’an

Ada dua hadis yang penulis anggap cukup menjelaskan tujuan diutusnya Nabi Muhammad  Saw. Pertama, hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, Ahmad, dan al-Hakim dari Sahabat Abu Hurairah ra:

إنَّما بعثتُ لأتمِّمَ مَكارِمَ الأخلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Hadis kedua adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sayyidah ‘Aisyah r.a. Ketika beliau ditanya mengenai akhlak Rasulullah Saw., beliau menjawab:

كان خُلُقُه القُرآنَ

“Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.”

Makna Hadis Pertama

Dalam karyanya, Al-Bayān li Mā Yusyghil al-A żhān, Syaikh ‘Ali Jum‘ah menjelaskan bahwa hadis pertama menegaskan fokus utama risalah Nabi Muhammad  Saw, yakni pembinaan kemuliaan akhlak. Penegasan ini sekaligus menunjukkan betapa tinggi kedudukan akhlak mulia dalam bangunan ajaran Islam.

Kata أُتَمِّمَ/utammimu yang digunakan dalam hadis tersebut lazim diterjemahkan dengan “menyempurnakan”. Secara etimologis, kata ini berasal dari akar tamma.

Al-Qur’an sendiri menggunakan dua istilah yang maknanya berdekatan dalam Surah Al-Mā’idah ayat 3, yaitu akmala pada firman Allah SWT. أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ dan atamma pada firman-Nya أَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي.

Menurut ‘Allāmah Ṭabāṭaba’ī—sebagaimana dikutip oleh Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbāh—kedua istilah ini memiliki perbedaan makna yang signifikan.

Kata akmala dipahami sebagai “menyempurnakan” dalam arti menggabungkan berbagai unsur yang masing-masing telah sempurna ke dalam satu kesatuan yang utuh. Adapun atamma bermakna “mencukupkan”, yakni menghimpun unsur-unsur yang pada mulanya belum sempurna sehingga, dengan keterhimpunannya, tercapai kesempurnaan.

Pemilihan kata akmala untuk disandarkan kepada dīnakum (agama kamu) mengisyaratkan bahwa seluruh ajaran Islam—yang mencakup akidah, ibadah, muamalah, ketentuan halal dan haram, serta aspek lainnya—telah mencapai kesempurnaan, baik secara keseluruhan maupun pada setiap bagiannya. Seluruhnya terhimpun secara utuh dalam satu sistem kehidupan yang disebut dīnul-Islām.

Sebaliknya, kata atamma disandarkan kepada ni‘matī (nikmat-Ku). Hal ini menunjukkan bahwa berbagai nikmat Allah SWT, seperti kesehatan, harta, keturunan, dan kedudukan, meskipun banyak, belum tentu sempurna apabila berdiri sendiri.

Nikmat-nikmat tersebut baru mencapai kesempurnaan ketika disertai dan diarahkan oleh petunjuk agama. Tanpa bimbingan wahyu, kekayaan atau kesehatan—sebesar apa pun jumlahnya—tetap merupakan nikmat yang belum utuh dan belum mencukupi.

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button