OASE

Sukarela ke Surga, Memaksa Diri Terhindar dari Neraka

“Paksa diri untuk shalat. Paksa diri untuk tutup aurat. Paksa diri untuk taat Allah. Karena memaksakan diri untuk masuk surga lebih baik daripada sukarela masuk neraka”.

Kalimat di atas tak asing di telinga. Memberi motivasi taat Allah walaupun berat, daripada memperturutkan kesenangan hawa nafsu yang berujung neraka. Ya tak dipungkiri hidup dalam sistem sekuler yang mengalienisasi amal saleh dan menormalisasi kemaksiatan, amal saleh ‘terasa’ sebagai beban.

Sebaliknya kemaksiatan ‘terasa’ lapang. Butuh effort untuk menjaga kewarasan (menaati Allah dan menghindar kemaksiatan). Lantas bagaimana cara diri masuk surga tanpa embel-embel paksaan dan menghindar neraka penuh kesadaran?

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.

Petuah di atas masyhur datang dari lisan seorang ulama ahli hikmah. Petuah bermakna urgensi bagi manusia menyadari hakikat dirinya. Hal tersebut mutlak diperoleh dengan memfungsikan akal diri untuk berpikir secara mendalam terkait uqdatul kubra (pertanyaan mendasar kehidupan). Yaitu dari mana diri berasal, untuk apa diri hidup di dunia serta apa yang terjadi setelah kematian.

Kesadaran Bermula dari Hakikat Diri yang Sahih

Kemutlakan melakukan pengamatan secara mendalam baik terkait diri sendiri, alam dan kehidupan. Diri manusia, mulai dari rahim hingga lahir ke dunia, dari ujung kaki hingga kepala penuh dengan keajaiban dalam proses penciptaannya. Pun sama dengan kompleksitas proses metabolisme tubuh manusia yang terkait satu sama lain.

Keanekaragaman hayati dari hewan dan tumbuhan di bumi hari ini yang mampu diidentifikasi para ilmuwan menyentuh digit triliunan spesies. Jumlah spesiesnya saja mencengangkan, apatah lagi dikuliti terkait daur hidup, keunikan komponen fungsi tubuhnya dan sebagainya. Bahkan hewan yang dianggap sebelah mata oleh manusia, katakan saja nyamuk, anatomi tubuhnya super rumit. Tak ada robot tercanggih buatan manusia yang mampu menyamainya.

Tumbuhan dengan segala jenisnya memiliki sumber asupan nutrisi sama berupa karbon dioksida, air dan zat hara dari tanah. Tapi hasil perkembangan batang, daun, bunganya bisa berbeda-beda, termasuk buah yang beraneka ragam kelezatan dan kaya manfaatnya. Belum lagi apabila menyusuri kehidupan laut dan keindahan yang luar biasa di dalamnya.

Kehidupan di bawah tanah dengan berbagai mineral yang berharga. Gunung dengan lukisan alam yang indah mempesona. Langit yang berdiri megah tanpa ada tiang penyangga. Termasuk tak terhitungnya benda-benda langit seperti bintang, galaksi yang ukuran dan jaraknya tak mampu semuanya dijangkau oleh sains dan teknologi manusia terkini.

Secuil pengungkapan sisi ini saja dapat menggiring pada satu pemikiran bahwa semua ini tak mungkin terjadi tanpa kendali Sang Pencipta. Terlebih manusia, alam dan kehidupan menunjukkan karakteristik yang sama, yaitu terbatas (mahduud). Keterbatasan ini meliputi keadaan lemah (‘aajizun), serba kurang (naaqisun) dan membutuhkan selain dirinya (muhtajun ilaa li ghairihi).

Setiap manusia tumbuh berkembang sampai pada batas waktu yang tak mampu dilampauinya lagi yaitu ajal. Pun sama jika mengamati hewan, tumbuhan bahkan alam semesta akan berakhir dengan datangnya ajal.

Prediksi ilmuwan penyebab alam semesta berakhir dapat berupa habisnya energi matahari yang berdampak pada punahnya kehidupan. Hilangnya gaya gravitasi yang akan menyebabkan tabrakan dahsyat benda-benda langit super raksasa, atau penyebab lainnya.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button