DAERAH

FUUI: Kunjungan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis ke Jokowi Bisa Picu Fitnah di Masyarakat

Bandung (SI Online) – Langkah dua tersangka kasus pencemaran nama baik terkait dugaan ijazah palsu mantan Presiden Jokowi menuai sorotan tajam.

Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis yang diketahui mengajukan permohonan keadilan restoratif (restorative justice) dan mendatangi rumah Jokowi di Sumber, Solo, dinilai menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat.

Kunjungan ini langsung menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M Dai.

Kiai Athian menyatakan, manuver yang dilakukan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dengan mendatangi rumah Jokowi sangat mengagetkan dan di luar ekspektasi.

Menurut Kiai Athian, kedua tokoh tersebut sebelumnya dikenal sebagai sosok yang sangat gigih dan konsisten dalam memperjuangkan kasus dugaan ijazah palsu Jokowi, bahkan sejak era kasus yang melibatkan Gus Nur dan Bambang Tri Mulyono.

“Begitu luar biasa gigih untuk mendampingi keduanya itu dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi hingga Gus Nur dan Bambang Tri masuk penjara. Eggi dan Damai itu tetap kelihatan konsisten,” ungkap Kiai Athian dalam keterangannya, Selasa (13/01/2026).

Namun demikian, menurut pengamatan Kiai Athian, muncul informasi yang cukup mengejutkan bahwa Jokowi berkenan memaafkan lima tersangka, sementara tiga tersangka lainnya tidak termasuk dalam pengampunan tersebut. Hal ini dinilai sebagai upaya untuk memecah belah kedelapan tersangka yang sebenarnya memiliki tuntutan yang sama.

“Tuntutan mereka kan sama, yaitu masalah dugaan adanya ijazah palsu itu. Tapi tiba-tiba kok dibelah gitu, yang lima bisa dimaafkan, sementara yang tiga tidak,” imbuh KH Athian.

Yang lebih menarik lagi, Kiai Athian menyoroti adanya pujian yang dilontarkan kepada Jokowi dengan sebutan cerdas, berani, dan militan. Menurutnya, hal ini terasa aneh dan menggelikan, terutama jika dikaitkan dengan kabar bahwa Jokowi sudah memaafkan keduanya.

“Kalau sudah memaafkan berarti sudah meminta maaf kan gitu. Masa tiba-tiba memaafkan kalau tidak ada orang meminta maaf,” tambah KH Athian dengan nada kritis.

Kehadiran Eggi dan Damai di kediaman Jokowi menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat. Apa sebenarnya tujuan di balik kunjungan tersebut? Pertanyaan ini, menurut Kiai Athian, sangat wajar mengingat konsistensi keduanya selama ini dalam memperjuangkan kasus dugaan ijazah palsu.

“Saya kira sudah saatnya keduanya berbicara terus terang saja . Walaupun memang posisinya sekarang agak sulit. Ada kemungkinan semula keduanya menduga ini tidak akan terbuka. Kini dengan telah terbuka, kiranya cukup sulit untuk mencari alasan yang bisa diterima masyarakat,” jelas Kiai Athian.

Lebih lanjut, Kiai Athian menilai bahwa kehadiran Eggi dan Damai di rumah Jokowi tidak hanya mengganggu para tersangka lainnya , tetapi juga mengecewakan rakyat Indonesia yang selama ini mengharapkan penegakan kebenaran, khususnya dalam penyelesaian kasus dugaan ijazah palsu tersebut.

Dalam pandangan Islam, Kiai Athian menegaskan bahwa memang tidak mudah bagi seseorang untuk istiqomah di jalan yang benar.

“Sulitnya istiqomah dijalan yang benar, kiranya yang telah menjadi alasan mengapa kita dididik Allah SWT untuk setiap hari minimal 17 kali berdoa dalam shalat fardu “Ihdinash shirathal mustaqiim “, dimana permohonan hidayah yang dimaksud di dalam ayat ini bukan hidayah Ad dalaalah – petunjuk- karena hidayah dalam bentuk petunjuk sudah dijelaskan Al-Qur’an dan As Sunnah. Tapi yang dimaksud hidayah Al ma’unah- pertolongan – harapannya Allah SWT berkenan membimbing agar bisa tetap istiqomah dijalan yang benar sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam Al Quran dan As Sunnah” terang KH Athian memberikan perspektif keagamaan.[]

rep: Suwandi

Back to top button