Iran Setelah Ayatollah Ali Khamenei
Para pendukung intervensi asing di Iran tampaknya tidak akan mendapatkan keruntuhan mendadak dan perubahan rezim yang mereka harapkan.
Oleh: Mohammad Reza Farzanegan, Profesor Ekonomi Timur Tengah, Philipps-Universität Marburg, Jerman.
Selama bertahun-tahun, para pendukung intervensi di Barat berargumen bahwa biaya jangka panjang dari tatanan politik di Iran—seperti represi, kemunduran ekonomi, dan stagnasi sosial—lebih besar daripada risiko perubahan rezim eksternal yang bersifat kekerasan. Bulan lalu, “penghalang moral” terhadap intervensi menurun secara signifikan setelah penindasan berdarah terhadap protes pada Januari serta liputan positif luas terhadap oposisi Iran di media Barat.
Intervensi AS-Israel segera menyusul, dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak rakyat Iran untuk “bangkit”. Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat tinggi Iran lainnya dipuji sebagai pencapaian besar.
Perubahan rezim yang gagal
Timur Tengah yang lebih luas memiliki tiga contoh terbaru yang menunjukkan mengapa intervensi luar kemungkinan besar tidak menghasilkan transisi yang mulus dan stabilitas: Afghanistan, Irak, dan Libya. Ketiganya menunjukkan bahwa operasi militer eksternal tidak diikuti stabilisasi cepat, melainkan kekacauan.
Afghanistan mengalami perubahan rezim pada 2001 setelah invasi AS, yang memicu dua dekade pertempuran dan serangan terhadap warga sipil. Pada 2021, rezim yang sebelumnya digulingkan kembali berkuasa, namun stabilitas tetap sulit dicapai.
Irak mengalami berbagai pemberontakan dan perang saudara setelah invasi AS tahun 2003; meskipun ada upaya demokratisasi, negara tersebut belum mampu kembali ke stabilitas sebelum 2003.
Libya runtuh setelah intervensi yang dipimpin NATO pada 2011, dan hingga kini masih terpecah antara dua pusat pemerintahan di Tripoli dan Benghazi.
Tak satu pun dari negara-negara ini berhasil kembali ke tingkat stabilitas sebelum intervensi. Jalur mereka ditandai oleh kerapuhan dan volatilitas jangka panjang, bukan “penyesuaian singkat” seperti yang dijanjikan para pendukung intervensi.
Perubahan rezim yang mungkin tidak terjadi
Rezim di Iran berbeda dalam banyak hal dibandingkan dengan Afghanistan, Irak, dan Libya. Pembunuhan Ayatollah Khamenei bisa berdampak besar tanpa harus menyebabkan runtuhnya negara.
Dalam simbolisme Islam Syiah—yang dianut mayoritas rakyat Iran—kematian Khamenei dapat dipandang sebagai pemenuhan narasi kesyahidan. Kematian di tangan musuh yang dianggap sebagai musuh Islam bisa dimaknai sebagai jalan penebusan, bukan kekalahan.
Narasi ini berpotensi menyatukan sebagian besar masyarakat, termasuk mereka yang sebelumnya kritis terhadap kepemimpinan, dalam semangat pertahanan nasional. Negara dapat mengubah sosok pemimpin yang gugur menjadi martir akibat “agresi asing”, sehingga memicu kohesi nasional dan memperkuat persatuan aparat keamanan serta kelompok tradisionalis—sesuatu yang mungkin tidak diperkirakan oleh pendukung perubahan rezim.
Namun, keberhasilan hal ini kini lebih menantang setelah hasil protes terbaru dibandingkan konfrontasi sebelumnya dengan Israel pada Juni 2025.
Pengalaman Irak, Libya, dan Afghanistan juga menunjukkan bahwa ketiadaan institusi birokrasi, keamanan, dan fiskal yang utuh saat intervensi dapat menyebabkan ketidakstabilan berkepanjangan.





