#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Menunggu Manuver Mojtaba Khamenei

Oleh: Dr. Yanuardi Syukur, M.Si., Dosen Antropologi Universitas Khairun.

Di tengah gempuran rudal AS-Israel, Majelis Ahli Iran dilaporkan telah memilih Mojtaba Khamenei (56 tahun) sebagai penerus ayahnya. Mojtaba memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki kandidat lain: ia adalah vali-e dam, atau ahli waris yang secara hukum Islam berhak menuntut balas atas darah ayahnya.

Dalam tradisi Syiah, hak ini sangat kuat. Ketika Trump kini tidak hanya menanggung darah Qasem Soleimani, tetapi juga darah Ali Khamenei, maka setiap kompromi menjadi jauh lebih mahal secara simbolis.

Namun di sinilah kompleksitasnya. Ajaran pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini, menetapkan prinsip yang memiliki kekuatan fatwa bahwa “menjaga sistem adalah kewajiban tertinggi.” Dalam bahasa sederhana, kelangsungan negara harus didahulukan di atas segalanya—bahkan di atas balas dendam. Mojtaba berada di persimpangan: sebagai pewaris darah, ia dituntut membalas; sebagai pemimpin, ia mungkin harus menelan dendam demi menyelamatkan apa yang tersisa dari negara yang diwariskan ayahnya.

Menurut Negar Mojtahedi dalam “From Shadow to Power: who is Mojtaba Khamenei?” (Iran International, 4/3/2026), dorongan utama di balik pemilihan Mojtaba berasal dari IRGC. Ini bukan kebetulan. Mojtaba bertempur bersama Habib Battalion dalam Perang Iran-Irak di usia remaja (1980-an).

“Banyak dari pria yang bertempur di sampingnya kemudian naik ke posisi senior di aparat keamanan dan intelijen Iran, termasuk tokoh-tokoh yang kemudian memimpin bagian-bagian dari organisasi intelijen IRGC dan komando keamanan yang bertanggung jawab melindungi rezim,” tulis Negar Mojtahedi. Ia juga selama dua dekade terakhir secara efektif mengelola Beit, kantor Pemimpin Tertinggi yang sesungguhnya menjadi pusat kekuasaan riil—bukan kepresidenan yang hanya fasad.

Konstitusi Iran memberikan syarat Pemimpin Tertinggi harus memiliki pengetahuan mendalam tentang yurisprudensi Islam dan diakui sebagai otoritas agama senior. Mojtaba, bagaimanapun, tidak secara luas dianggap termasuk di antara ulama peringkat tertinggi di Iran.

Ia belajar di seminari-seminari Qom di bawah beberapa sarjana konservatif terkemuka tetapi tidak menyandang pangkat ayatollah. “Meskipun demikian, sistem politik Iran secara historis menunjukkan fleksibilitas ketika konsensus elit terbentuk di sekitar seorang kandidat,” lanjut Negar Mojtahedi. Artinya, ada keluwesan di masa krisis seperti sekarang.

Patrick Clawson dan Farzin Nadimi dari Washington Institute dalam tulisannya “What Kind of Supreme Leader Would Mojtaba Khamenei Be?” (5/3/2026), menyebut satu fakta yang sering luput dari analisis geopolitik: serangan yang menewaskan Ali Khamenei juga menewaskan ibu, istri, saudara perempuan, dan ipar Mojtaba. Ini bukan sekadar kehilangan politik; ini adalah trauma personal yang mendalam.

Pengalaman traumatis pada tingkat personal dapat membentuk cara seorang pemimpin memandang dunia. Para analis memperkirakan Mojtaba akan mengambil “pandangan eksistensial yang dalam terhadap ancaman keamanan asing,” menunjukkan “lebih sedikit kecenderungan untuk berkompromi dengan Amerika Serikat,” dan mungkin didorong oleh “perasaan dendam.” Jika ini terjadi, perang tidak akan segera berakhir. Sebaliknya, ia bisa memasuki fase baru yang lebih keras, meluas, dan berdurasi panjang—bisa jadi.

Namun trauma juga bisa menjadi jebakan. Dalam budaya Syiah, kesyahidan adalah kemenangan, bukan kekalahan. Tapi ketika seluruh keluarga musnah dalam satu serangan, pertanyaan tentang makna pengorbanan menjadi sangat personal.

Akankah Mojtaba membaca nasib keluarganya sebagai undangan untuk bergabung dengan para syuhada, atau sebagai peringatan bahwa perlawanan tanpa akhir hanya akan membawa lebih banyak kematian?

Para analis merumuskan dua pilihan yang dihadapi Mojtaba. Pertama, tetap bertahan, meningkatkan perlawanan, dan berharap bisa bertahan lebih lama dari serangan. Kedua, mundur dan menerima konsesi besar, yaitu menghentikan pengayaan uranium, membatasi rudal, membubarkan jaringan proksi, dan mengakhiri konfrontasi dengan Israel.

1 2Laman berikutnya
Back to top button