Analisis Geopolitik Perang yang Dipaksakan kepada Iran
Ini adalah perang untuk bertahan hidup dengan konsekuensi global.
Oleh: Mohammad Reza Bahrami, Direktur Jenderal untuk Asia Selatan di Ministry of Foreign Affairs of Iran.
Pada minggu kedua perang melawan Iran, konflik ini telah melampaui sekadar konflik lokal, dengan dampak yang menjangkau tingkat global. Konflik ini, yang secara agresif dan ilegal dipaksakan oleh Amerika Serikat dan Israel, tidak hanya mengganggu upaya diplomatik tetapi juga menantang dasar-dasar hukum internasional.
Sebagai respons terhadap agresi tersebut, Iran menjalankan hak alaminya untuk membela diri—sebuah kebutuhan strategis untuk mempertahankan integritas wilayah dan kedaulatan nasional. Bagi negara saya, perang ini adalah perang untuk bertahan hidup, yang diatur oleh garis merah terbatas dan strategi yang harus dilakukan.
Kebutuhan akan jaminan yang nyata
Iran sebelumnya telah mengalami perang yang dipaksakan di tengah negosiasi sensitif. Pengalaman masa lalu, seperti perang dengan Irak serta perkembangan diplomatik terbaru, menunjukkan bahwa tanpa memperoleh jaminan yang nyata dan dapat dipercaya, risiko agresi berulang tetap ada.
Pengalaman dua tindakan agresi selama negosiasi nuklir dan sanksi—pada Juni 2025 dan Februari tahun ini—menegaskan pentingnya kekuatan pencegah (deterrence) dan kesiapan pertahanan, sehingga diplomasi harus disertai kemampuan operasional.
Selain itu, serangan terhadap infrastruktur—yang menunjukkan kegagalan ilusi para agresor tentang perubahan rezim—serta tuntutan dari pihak lawan untuk mengendalikan suksesi kepemimpinan tidak boleh dianggap sekadar kesalahan perhitungan strategis.
Sebaliknya, hal itu mencerminkan kegagalan mendalam dalam memahami makna hak menentukan nasib sendiri dan struktur politik yang sangat menghargai kemerdekaan. Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran oleh ‘Assembly of Experts’ merupakan indikator jelas komitmen terhadap kemandirian tersebut.
Dimensi militer perang
Dari perspektif militer, kehadiran Amerika Serikat di kawasan ini sangat besar. Saat ini, tiga kelompok kapal induk tempur Amerika Serikat dikerahkan di wilayah tersebut, yang mewakili sekitar 25 persen dari armada kapal induk operasional AS.
Meskipun kehadiran ini dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan dan memberi tekanan pada Iran, realitas operasional menunjukkan bahwa bahkan dengan demonstrasi kekuatan tersebut, Amerika Serikat tidak dapat sepenuhnya mengamankan asetnya di kawasan.
Penghancuran dua radar utama Amerika Serikat di wilayah itu menandai momen penting dalam perang, yang menyoroti kemampuan Iran untuk menghadapi ancaman canggih dan mengelola konflik secara cerdas.
Selain itu, kendali Iran atas Selat Hormuz—jalur bagi sekitar 20 persen ekspor minyak dunia—memiliki konsekuensi strategis langsung, yang menunjukkan kapasitas Iran untuk melakukan pencegahan ekonomi dan geopolitik secara efektif terhadap tekanan eksternal.
Dampak ekonomi dan energi
Perang terhadap Iran memiliki dampak besar pada pasar energi dan ekonomi global. Penutupan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz menyebabkan harga minyak melonjak.
Minyak mentah Brent naik dari 73 dolar pada 27 Februari menjadi 107 dolar pada 8 Maret—kenaikan lebih dari 40 persen dalam 10 hari.
Selain itu, sekitar 20 persen produksi LNG global terhenti, dan produksi minyak di beberapa negara penghasil minyak di kawasan menurun. Situasi ini meningkatkan tekanan pada rantai pasokan global, dan krisis berkepanjangan dapat menimbulkan dampak yang bahkan lebih parah daripada pandemi COVID-19 pandemic terhadap pasar pangan dunia, pupuk kimia, dan barang-barang penting lainnya.






