Houthi Memegang Kunci Laut Merah
Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.
“The Red Sea theater sits in a fragile equilibrium” (Teater Laut Merah berada dalam keseimbangan yang rapuh),” demikian tulis Mohamed Eldoh tentang ‘gejala ketidakseimbangan’ sebelum perang AS-Israel terhadap Iran meletus, seperti dipublikasikan oleh Global Security Review.
Selat Bab-el-Mandeb, yang namanya berasal dari bahasa Arab “Gerbang Kesedihan” (باب المندب, gate of tears), telah lama menjadi saksi bisu persaingan kekuatan global. Dari era kolonial Inggris hingga kehadiran armada Soviet, selat selebar 26 kilometer ini selalu menjadi rebutan karena posisinya yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.
Kini, di tengah perang AS-Israel melawan Iran yang memasuki bulan kedua, Bab-el-Mandeb kembali menunjukkan betapa rentannya tatanan maritim global ketika sebuah titik penyempitan (chokepoint) jatuh ke tangan aktor non-negara yang didukung kekuatan besar. At least, ada tiga hal penting yang menjelaskan mengapa selat ini menjadi titik nadi penting di tengah perang AS-Israel terhadap Iran.
Geografi Penentu Nasib
Bab-el-Mandeb memisahkan Semenanjung Arab (Yaman) dari Tanduk Afrika (Djibouti dan Eritrea), sekaligus menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Pulau Perim membagi selat ini menjadi dua jalur: Bab Iskender di timur yang dangkal dan Dact-el-Mayun di barat yang dalam. Sejak Terusan Suez dibuka pada 1869, posisi ini menjadikannya titik penyempitan (chokepoint) yang diperebutkan kekuatan global, dari Imperium Britania yang menduduki Pulau Perim pada 1799 hingga kehadiran Soviet di kawasan ini hingga akhir Perang Dingin.
Dalam konteks perang AS-Israel melawan Iran yang memasuki bulan kedua, geografi inilah yang menjadi kekuatan utama. Jadi penentu. Kelompok Houthi di Yaman, yang menguasai ibu kota Sanaa sejak 2014 dan didukung Iran, kini memanfaatkan selat ini sebagai senjata strategis.
Pada 28 Maret 2026, Houthi meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel dan secara eksplisit mengancam akan “menutup Selat Bab al-Mandeb” sebagai bagian dari taktik berjenjang (Al Jazeera, 28 Maret 2026). Ancaman ini bukan sekadar ‘retorika omon omon’ , melainkan kelanjutan dari kampanye mereka sebelumnya yang menyerang lebih dari 100 kapal niaga selama perang Gaza.
Senjata Aktor Non-Negara
Kekuatan Houthi, aktor non-negara (non-state actor) terkuat di kawasan tersebut, terletak pada kemampuan mereka menerapkan strategi anti-akses/area denial dengan memanfaatkan kedekatan geografis dengan jalur pelayaran tersibuk dunia.
Sekitar 9% dari total perdagangan minyak lewat laut—6,2 juta barel per hari—melintasi selat ini menuju Eropa, Amerika, dan Asia. Artinya, jika Bab-el-Mandeb ditutup, kapal tanker dipaksa mengelilingi Afrika, yaitu harus lewat Afrika Selatan dulu.
Perjalanan melalui Tanjung Harapan (Afsel) dibandingkan melalui Terusan Suez dan Bab-el-Mandeb menambah jarak tempuh sekitar 4.000–4.500 mil laut bagi kapal dari Teluk Persia ke Eropa. Dengan kecepatan jelajah 15–18 knot, waktu tempuh tambahan mencapai sekitar 10 hingga 14 hari, sementara rute dari Asia Timur bisa kehilangan waktu hingga 15–20 hari. Kerugian waktu ini belum memperhitungkan biaya bahan bakar ekstra, premi asuransi yang lebih tinggi, serta dampak keterlambatan terhadap rantai pasok global.
Strategi Houti ini tidak lepas sebagai bagian dari upaya terkoordinasi Iran untuk mengganggu beberapa titik penyempitan sekaligus untuk ‘menyempitkan pergerakan musuh’. Di Selat Hormuz, Iran telah menciptakan “koridor aman” di perairan teritorialnya yang disebut sebagai “pos tol Teheran” (Guardian, 26 Maret 2026). Iran berkuasa penuh saat ini di Hormuz.
Setidaknya dua kapal dilaporkan membayar hingga $2 juta untuk dapat melintas. Dengan pola yang sama, Houthi kini menjadi ujung tombak untuk menekan jalur Laut Merah, menciptakan blokade multi-selat yang menurut peneliti Ibrahim Jalal merupakan “arena yang telah disiapkan Iran selama ini” (Al Jazeera, 28 Maret 2026).






