OPINI

Retorika Perang Uganda dalam Konflik Iran-Israel

Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.

“We want the war in the Middle East to end now. The world is tired of it. But any talk of destroying or defeating Israel will bring us into the war. On the side of Israel!”

(Kami ingin perang di Timur Tengah segera berakhir. Dunia sudah lelah dengan itu. Namun, setiap pembicaraan tentang menghancurkan atau mengalahkan Israel akan membawa kami masuk ke dalam perang—di pihak Israel!)

Demikian pernyataan Muhoozi Kainerugaba di platform X (26/3/2026, 1:04 am) yang menyatakan kesiapan Uganda mendukung Israel dalam konflik melawan Iran dan menjadi sorotan global.

Sebagai Kepala Staf Angkatan Darat Uganda dalam struktur Uganda People’s Defence Force (UPDF), sekaligus putra Presiden Yoweri Museveni, posisi Muhoozi tidak bisa dipandang sebagai suara biasa. Ia berada di persimpangan antara otoritas militer formal dan pengaruh politik, bahkan kerap disebut sebagai calon kuat penerus kekuasaan.

Spekulasi tentang suksesi ini semakin menguat seiring dengan meningkatnya ketegangan politik di Uganda, di mana Museveni telah berkuasa sejak 1986—salah satu rezim terlama di Afrika—setelah menghapus batasan masa jabatan presiden pada tahun 2005.

Dalam serangkaian unggahan media sosial, Muhoozi menegaskan bahwa Uganda akan “berada di pihak Israel” jika negara tersebut terancam—sebagaimana dilaporkan dalam artikel “Ugandan military chief vows to back Israel against Iran in viral social media barrage” (Tilsley, 28/3/2026) dan “Uganda Signals War Support for Israel” (Manuel, 27/3/2026).

Bahkan dalam pernyataan berikutnya, ia mengklaim bahwa satu brigade Uganda “mampu menguasai Teheran dalam waktu tidak lebih dari dua pekan” (Baker, voennoedelo.com, 28/3/2026). Pernyataan ini membuka ruang diskusi menarik tentang posisi negara-negara Afrika dalam pusaran konflik global.

Setidaknya ada empat gagasan yang dapat kita baca dari fenomena tersebut.

Pertama, pernyataan tersebut lebih mencerminkan simbolisme politik daripada kesiapan militer nyata. Uganda, dengan sekitar 45.000 personel aktif—yang secara historis didominasi oleh perwira dari wilayah Utara sebagai warisan rekrutmen kolonial Inggris—tidak memiliki kapasitas proyeksi kekuatan untuk terlibat langsung dalam konflik Timur Tengah yang kompleks (Tilsley, 28/3/2026). Klaim bahwa satu brigade dapat “menaklukkan Teheran” dalam 14 hari (Ochieng, 30/3/2026; Baker, 28/3/2026) merupakan hiperbola politik yang sulit dilepaskan dari upaya membangun citra kepemimpinan yang kuat.

Dalam konteks ini, pernyataan Muhoozi Kainerugaba lebih tepat dibaca sebagai upaya membangun legitimasi domestik di tengah tingginya ketimpangan ekonomi dan korupsi yang merajalela (Transparency International menempatkan Uganda di peringkat 151 dari 176 negara pada 2016), sekaligus sinyal loyalitas geopolitik. Ironisnya, retorika militeristik ini muncul dari negara yang masih bergulat dengan kemiskinan dan ketergantungan impor bahan bakar—kontras tajam dengan jargon “kekuatan” yang ditonjolkan.

Kedua, relasi historis Uganda–Israel memberi konteks penting bagi sikap tersebut. Sejak era Milton Obote, Uganda telah menjalin kerja sama militer dengan Israel, termasuk dalam dukungan terhadap konflik di Sudan Selatan. Hubungan ini berlanjut pada awal kekuasaan Idi Amin sebelum kemudian berbalik menjadi permusuhan setelah perubahan orientasi politiknya pada 1972.

Nama Idi Amin sendiri menyimpan ironi tersendiri sebagai rezim yang dikenal dengan kekejaman dan keeksentrikan—pernah menyatakan diri sebagai “Lord of All the Beasts of the Earth and Fishes of the Sea” dan sempat memutus hubungan dengan Israel—kini kontras dengan loyalitas yang dinyatakan oleh elite militer Uganda saat ini.

Titik balik penting dalam sejarah ini adalah Operation Entebbe (1976), sebuah operasi penyelamatan sandera Israel yang tidak hanya menjadi operasi militer spektakuler, tetapi juga simbol memori kolektif dalam hubungan kedua negara. Pada era Yoweri Museveni, yang mengambil alih kekuasaan pada tahun 1986 setelah perang gerilya enam tahun, hubungan tersebut kembali menguat melalui kerja sama militer, intelijen, dan pembangunan.

1 2Laman berikutnya
Back to top button