Israel Serang Lebanon: 2.020 Orang Gugur dan 6.436 Terluka
Lebanon (SI Online) – Serangan udara dan artileri besar-besaran yang dilancarkan militer Israel ke wilayah Lebanon selatan kembali menelan korban jiwa dan kehancuran luas, mempertegas eskalasi konflik yang kian menjauh dari jalur diplomasi.
Sejak Sabtu dini hari (11/4), militer Israel menggempur sedikitnya 31 kota, desa, dan kawasan di Lebanon selatan. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 14 orang tewas, termasuk tiga tenaga medis, serta melukai sembilan lainnya, menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon dan kantor berita nasional setempat.
Tenaga Medis Jadi Korban
Di tengah reruntuhan bangunan dan suara sirene yang tak henti, kisah para korban menggambarkan tragedi kemanusiaan yang terus berulang. Di antara korban tewas terdapat para tenaga medis—orang-orang yang seharusnya dilindungi oleh hukum humaniter internasional.
Serangan di wilayah Kafr Sir menewaskan empat orang, termasuk seorang paramedis, dan melukai empat lainnya. Di kota Toul, tiga orang lainnya tewas—termasuk seorang tenaga medis—dan tiga lainnya terluka. Sementara di Zefta, tiga orang kembali gugur, termasuk seorang paramedis, dengan dua korban luka.
Di lokasi lain, tiga warga tewas dalam serangan di Meifdoun, serta satu orang di Qasiba, menambah panjang daftar korban sipil dalam gelombang serangan tersebut.
Kematian tenaga medis ini memicu kecaman luas karena bertentangan dengan prinsip perlindungan tenaga kesehatan dalam konflik bersenjata sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa.
Desa dan Kota Luluh Lantak
Serangan Israel menyasar berbagai wilayah padat penduduk, termasuk Bint Jbeil, Sidon, Nabatieh, serta sejumlah desa seperti Aba, Jebchit, Qaqaiyat al-Jisr, Deir al-Zahrani, dan lainnya.
Gelombang pemboman juga menghantam kawasan Majdal Zoun, Tyre Harfa, Qana, Khiam, Shebaa, hingga sejumlah desa lain yang tersebar di Lebanon selatan.
Akibatnya, kehancuran meluas tak terelakkan. Rumah-rumah warga hancur, infrastruktur rusak parah, dan akses jalan utama seperti Deir al-Zahrani–Nabatieh terputus. Generator listrik di beberapa wilayah juga dilaporkan hancur, memperparah krisis kemanusiaan di tengah konflik.
Di kota Markaba, pasukan Israel juga melakukan operasi peledakan besar-besaran yang menyebabkan kerusakan tambahan pada properti dan fasilitas sipil.
Bagi warga sipil, ini bukan sekadar angka statistik. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dalam hitungan detik, sementara yang lain harus menggali reruntuhan dengan tangan kosong untuk mencari anggota keluarga mereka.






