Kekuatan Cinta
Cinta adalah perasaan emosional yang mendalam terhadap seseorang, sesuatu, atau bahkan konsep tertentu, yang biasanya disertai dengan rasa kasih sayang, kepedulian, keterikatan, dan keinginan untuk memberi serta melindungi.
Cinta tertinggi dalam Islam, adalah cinta kepada Allah dan RasulNya. Cinta kepada keduanya ini lebih dari kecintaan kepada dirinya sendiri. Seorang Muslim harus mengarahkan jiwanya untuk selalu cinta kepada Allah dan RasulNya.
Maknanya apabila Allah dan RasulNya mewajibkan sesuatu, ia harus mengikutinya, Bila keduanya melarang sesuatu, ia pun harus menjauhinya. Ia tidak boleh mendahulukan nafsunya daripada kecintaan kepada keduanya.
Misalnya, ketika ia sedang asyik bekerja datang panggilan shalat. Maka meski sedang asyik, ia harus menghentikan pekerjaanya untuk segera ke masjid menjalankan shalat. Panggilan adzan itu lebih baik dari panggilan apapun di dunia ini.
Maka di zaman Rasulullah, kita melihat adanya cinta yang mendalam kepada Allah dan RasulNya. Suatu saat pernah ada panggilan jihad, seorang pemuda yang baru saja selesai akad nikah langsung buru-buru menemui panggilan itu.
Begitu juga ketika ayat tentang khamr turun, para ‘sahabiat‘ langsung membuang dan menumpahkan minuman-minuman khamar itu di jalan-jalan. Ketika perintah jilbab datang, wanita-wanita Muslim langsung buru-buru cari kain untuk menutupi rambutnya.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an Nisa’ 65)
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah mereka berkata: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. an Nuur 51)
Seorang Muslim merasakan kebahagiaan yang mendalam ketika menaati Allah dan RasulNya. Kenikmatan yang sulit ditandingi dengan kenikmatan-kenikmatan lain di dunia. Seorang Muslim yang telah menyelesaikan kewajiban shalat dhuhur misalnya. Maka ia merasakan kebahagiaan yang tinggi setelah shalat itu. Bila ada panggilan shalat dhuhur, ia belum segera melaksanakan shalat, maka ada perasaan mengganggu atau khawatir dalam dadanya.






