KULINER

Healing Tipis-Tipis ke Kudus, Jajan Pake Koin Bambu di Bawah Hutan Jati Wonosoco

Pernah nggak sih merasa burnout sama bunyi notifikasi HP yang nggak berhenti, atau sekadar bosan dengan pemandangan tembok kafe yang itu-itu saja? Kalau kamu lagi butuh pelarian yang nggak cuma bikin perut kenyang tapi juga bikin mental kembali segar, ada satu destinasi di Jawa Tengah yang hari ini lagi jadi perbincangan hangat.

Lupakan sejenak mal mewah dengan AC dinginnya. Hari ini, Ahad legi, 19 April 2026, keramaian justru berpindah ke sebuah sudut tersembunyi di kaki Pegunungan Kendeng, tepatnya di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Di sana, sebuah pasar kuliner bernama Pasar Sarwono tengah berlangsung dengan konsep yang dijamin bikin kamu merasa seperti masuk ke mesin waktu.

Estetika “Back to Nature” yang Sesungguhnya

Kalau biasanya kita nyari tempat makan yang Instagramable karena dekorasi neon atau furnitur industrial, Pasar Sarwono menawarkan kemewahan yang berbeda: Hutan Jati.

Bayangkan, kamu berjalan di atas guguran daun jati kering yang bunyinya kruis-kruis di bawah kaki, sementara cahaya matahari mengintip malu-malu dari celah pepohonan tinggi. Udaranya? Jangan ditanya. Jauh dari polusi knalpot, yang ada cuma aroma tanah dan wangi masakan tradisional yang terbawa angin. Ini adalah definisi healing yang sebenarnya bagi kaum milenial dan Gen Z yang kesehariannya habis di depan layar monitor.

Transaksi Unik: Selamat Tinggal QRIS (Sebentar Saja)

Di zaman sekarang, kita mungkin sudah terbiasa hidup cashless. Mau bayar kopi tinggal scan QRIS, mau beli cilok tinggal gesek. Tapi di Pasar Sarwono, sistemnya balik ke cara lama yang sangat unik.

Begitu masuk ke area pasar, kamu harus mampir dulu ke “Money Changer” tradisional. Di sini, uang Rupiahmu ditukar dengan koin bambu. Ya, kamu nggak salah baca. Potongan-potongan bambu kecil yang sudah dihaluskan inilah yang menjadi mata uang sah untuk jajan di sini.

Rasanya ada kepuasan tersendiri saat menggenggam koin-koin bambu itu di kantong. Ada sensasi “bermain peran” menjadi warga desa zaman dulu. Selain itu, penggunaan koin bambu ini bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi juga bentuk kampanye pengurangan sampah plastik dan digitalisasi yang terlalu masif. Kadang, kita memang butuh satu hari untuk benar-benar lepas dari ketergantungan teknologi, kan?

Menu yang Bikin Lidah “Flashback”

Ngomongin soal makanan, Pasar Sarwono nggak main-main soal kurasi. Kamu nggak bakal nemu croffle atau brown sugar boba di sini. Fokusnya adalah Kuliner Tradisional Khas Kudus dan Sekitarnya.

Pernah dengar Sego Pager? Ini adalah primadona di kawasan Undaan. Nasi dengan siraman bumbu kacang gurih yang dicampur dengan berbagai jenis sayuran (pagaer) yang segar. Atau mungkin kamu mau mencoba Gethuk Nyimut yang teksturnya lembut banget? Semua disajikan menggunakan wadah alami seperti daun pisang atau piring anyaman lidi.

Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkesmuarasabak.org

Minumannya pun nggak kalah juara. Ada Dawet Ayu yang manisnya pas dari gula jawa asli, atau wedang-wedangan yang bikin badan hangat. Harganya? Karena menggunakan koin bambu yang nilai tukarnya terjangkau, jajan di sini nggak bakal bikin dompet kamu nangis di akhir bulan. Dengan modal beberapa koin saja, kamu sudah bisa pesta pora kuliner lokal sampai kenyang.

Kenapa Harus Sekarang?

Pasar Sarwono ini konsepnya bukan pasar permanen yang buka setiap hari. Ia hadir sebagai pasar tiban atau pasar mingguan yang momentumnya sangat dijaga. Hari ini, suasana di Desa Wonosoco benar-benar hidup. Banyak anak muda dari luar kota seperti Semarang, Pati, hingga Jogja yang sengaja datang cuma buat merasakan sensasi jajan di bawah hutan jati.

Bagi Gen Z, tempat ini adalah konten mahal untuk TikTok atau Reels. Transisi dari menukar uang ke koin bambu, hingga cinematic shot makanan di atas pincuk daun pisang dengan latar belakang hutan jati, adalah materi konten yang dijamin bakal banyak yang nanya “Ini di mana, kak?”.

1 2Laman berikutnya
Back to top button