IBRAH

Kepribadian Islam: Karakter Khas Generasi Pemenang

Kepribadian merupakan unsur yang senantiasa melekat pada setiap manusia serta terbentuk dari perpaduan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah).

Pola pikir atau aqliyah adalah cara manusia memahami sesuatu dengan mengaitkan fakta dan informasi berdasarkan kaidah tertentu. Kapasitas ini menjadi standar bagi individu dalam memproses setiap fenomena yang tertangkap oleh indra.

Sementara itu, nafsiyah atau pola sikap merupakan cara manusia memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya melalui dorongan yang dikaitkan dengan pemahaman (mafahim). Nafsiyah menjadi gabungan alami antara kecenderungan pemenuhan kebutuhan hidup dengan konsep pemikiran yang dianut seseorang.

Adapun mafahim diartikan sebagai makna-makna pemikiran yang memiliki fakta konkret dalam realitas kehidupan. Sebuah informasi akan menjadi mafhum jika seseorang mampu mengindra dan membenarkan faktanya, bukan sekadar menjadi pengetahuan kosong.

Kepribadian seseorang dikatakan istimewa dan khas apabila pola pikir serta pola sikapnya berjalan selaras dan konsisten. Sebaliknya, kepribadian seseorang akan menjadi kacau balau jika terjadi pertentangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang disikapi.

Sebagai contoh, seorang muslim yang meyakini salat sebagai kewajiban namun tidak melaksanakannya menunjukkan kepribadian yang belum istimewa. Ketidakkonsistenan ini menandakan adanya kesenjangan antara keyakinan intelektual dengan penerapan praktis.

Contoh lain adalah ketika seorang muslim menganggap entitas Israel sebagai penjajah namun justru melakukan normalisasi hubungan dengan mereka. Sikap kontradiktif tersebut mencerminkan kepribadian yang kacau karena pola pikir dan tindakannya saling bertentangan.

Individu yang tidak memiliki kepribadian teguh akan senantiasa diliputi kegalauan dalam menjalani setiap sendi kehidupan. Ketidaksinkronan ini sering kali memicu kelalaian terhadap amanah sehingga ucapannya sulit untuk dipercayai orang lain.

Oleh karena itu, setiap muslim wajib memiliki kepribadian yang khas dengan menyelaraskan pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah Islam. Keselarasan ini menjadi fondasi utama dalam membentuk identitas diri yang kokoh dan berintegritas.

Perbaikan pemahaman terhadap syariat harus terus dilakukan agar setiap muslim mengerti makna mendalam dari setiap aturan agama. Jika pemahaman telah lurus, maka setiap tindakan yang lahir akan seiring sejalan dengan prinsip yang diyakini.

Seorang muslim harus senantiasa mengikatkan setiap kecenderungan atau muyul pribadinya dengan pemahaman Islam yang benar. Proses ini akan melahirkan perilaku mulia yang sesuai dengan kaidah tunggal yang bersumber dari wahyu.

Membentuk kepribadian istimewa memang membutuhkan proses yang tidak mudah namun tetap mungkin untuk diwujudkan. Keseriusan dan kesungguhan dalam menempa diri menjadi kunci utama untuk meraih derajat kepribadian tersebut.

1 2Laman berikutnya
Back to top button