Gagas Arah Baru Pembangunan Bangsa, MAI Terbitkan Sejumlah Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah
Jakarta (Suaraislam.id)-Majelis Arah Indonesia (MAI) menegaskan posisinya sebagai wadah pemikir (think tank) independen yang siap mengawal arah pembangunan nasional berbasis Pancasila dan konstitusi.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Silaturahim Nasional dan Pleno I Presidium MAI yang digelar di Masjid Agung Al-Azhar, Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Dalam forum konsolidasi tersebut, MAI menerbitkan dokumen Rekomendasi Strategis yang mencakup delapan sektor vital kebangsaan. Rekomendasi ini dirancang sebagai acuan bagi pemerintah guna memastikan pembangunan nasional tetap memiliki arah dan tujuan bersama yang jelas.
Presidium MAI menekankan pentingnya penetapan target pembangunan yang terukur agar kebijakan negara tidak berjalan tanpa tujuan.
Dalam kesempatan tersebut, dai kondang asal Sulawesi Selatan Ustaz Das’ad Latif memberikan perumpamaan mengenai pentingnya sasaran yang tegas dalam tata kelola negara.
“Dalam permainan sepak bola, keberadaan gawang menjadi tujuan yang menentukan arah permainan. Para pemain dapat berlari, menguasai bola, dan melakukan berbagai strategi, tetapi semuanya harus bermuara pada sasaran yang jelas,” ujar Ustaz Das’ad Latif.
Penjelasan tersebut diperkuat oleh Ustaz Fahmi Salim yang menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan sasaran pembangunan kolektif yang berlandaskan amanat UUD 1945.

Ustaz Fahmi memastikan bahwa MAI hadir bukan sebagai partai politik atau organisasi kemasyarakatan, melainkan sebagai kawan berdiskusi (sparring partner) pemerintah yang konstruktif.
“Ini adalah kumpulan para pemikir. Kami bukan ormas dan bukan partai politik,” kata alumni Universitas Al Azhar, Mesir itu.
Ia menambahkan bahwa fungsi kritik terhadap kebijakan pemerintah tetap perlu dilakukan melalui pendekatan fikih siyasah yang santun dan beradab.
“Kritik boleh, tetapi tidak lepas dari nilai-nilai. Kita tetap mengedepankan Pancasila, terutama semangat permusyawaratan,” lanjutnya.
Kegiatan Pleno I tersebut dihadiri jajaran anggota presidium dan tokoh nasional, di antaranya KH Thoha Yusuf Zakariya, Ustaz Das’ad Latif, Ustaz Slamet Ma’arif, KH Nonop Hanafi, Ustaz Fahmi Salim, Iwel Sastra, serta KH Habiburrahman El Shirazy. Adapun KH Abdul Somad (UAS) dan Profesor Irfan Syauqi Beik berhalangan hadir.






