OASE

Sucikan Hati, Bersihkan Jiwa

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 91: 9-10).

Ayat di atas menegaskan urgensi tazkiyatun nafs (menyucikan hati dan membersihkan jiwa) melalui ketaatan sejati dan menjauhi sifat-sifat buruk, untuk mencapai spiritualitas hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.

Asbabun nuzul kedua ayat di atas dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (Juz 4:438) dan Imam Muslim (No. Hadis 2650). Diriwayatkan bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang keberuntungan dan kerugian seseorang di akhirat kelak? Apakah sesuai takdir Allah sebelum ia lahir ke dunia, atau karena melaksanakan syariat yang engkau bawa?”

Rasulullah saw menjawab, “Sesuai takdir sebelum dia lahir ke dunia.”

Sahabat itu bertanya lagi, “Lalu bagaimana dengan amal-amalan di dunia yang dilaksanakan sesuai syariat yang engkau bawa, ya Rasulullah?”

Rasulullah saw menjawab, “Dalam Islam, Allah Swt telah memberikan dua pilihan: maksiat (fujur) atau taat (taqwa).”

Kemudian turunlah ayat 9-10 Surat Asy-Syams yang menjelaskan:

“Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya.” (Ibnu Katsir, Juz 4:517).

Makna “menyucikan hati dan membersihkan jiwa”, menurut Imam Qatadah, adalah bahwa seorang hamba wajib menaati aturan Allah Swt dengan cara membersihkan diri dari sifat-sifat tercela. Menurut Imam Mujahid dari Sa’id bin Jubair, ayat 9-10 Surat Asy-Syams memiliki makna yang sama dengan firman Allah dalam Surat Al-A’la ayat 14-15.

Dari penjelasan ayat-ayat tersebut, kita diperintahkan membersihkan hati dari raan (noda hitam), seperti syirik, khurafat, tahayul, dan berbagai bentuk bid’ah. Jiwa juga harus dibersihkan dari sifat-sifat tercela seperti sombong, riya, sum’ah, ujub, kikir, dan penyakit hati lainnya. Setelah itu, jiwa dan raga dihiasi dengan sifat-sifat terpuji dan akhlak mulia.

Ayat 9-10 Surat Asy-Syams menggunakan kata qad (sesungguhnya), yang menegaskan bahwa hasil akhir kehidupan sangat ditentukan oleh usaha menjaga kesucian hati dan kebersihan jiwa agar menjadi qalbun salim (hati yang bersih dan selamat).

Hati yang bersih (qalbun salim) akan menghasilkan iman yang kuat dan amal saleh yang istiqamah. Sebaliknya, hati yang kotor akan melahirkan kekerasan hati dan akhlak buruk.

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button