Bersama Orang yang Kita Cintai
Oleh: Imam Nur Suharno (Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat)
Ada satu pertanyaan yang membuat kita terdiam. Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. Wajahnya polos dan suaranya bergetar. “Kapan Hari Kiamat, wahai Rasulullah?”
Pertanyaan tersebut sampai hari ini masih sering kita ulang di dalam hati. Kapan? Jawaban Nabi saw. justru membalikkan pertanyaan itu ke dada kita sendiri. “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Laki-laki itu menjawab dengan sangat jujur. “Aku tidak mempersiapkan banyak shalat, puasa, dan sedekah untuk menghadapinya. Akan tetapi, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Di depan manusia paling mulia, laki-laki tersebut tidak berbohong. Ia tidak menutupi kekurangannya dan hanya mempunyai satu bekal, yaitu cinta.
Kita dapat melihat bagaimana Rasulullah saw. menjawab. Beliau tidak memarahinya dan tidak pula meremehkannya.
Nabi saw. justru memberikan jaminan paling indah sepanjang sejarah: “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”
Cinta bukan sekadar perasaan semata. Hadis di atas menggugah karena membongkar rahasia besar bahwa Allah Swt. tidak menuntut kita menjadi sempurna dahulu baru boleh mencintai Nabi saw.
Namun, Allah Swt. melihat ke mana hati kita condong. Siapa yang paling sering kita sebut namanya? Siapa yang paling kita rindukan? Siapa yang kita bela ketika namanya dihina? Siapa yang kita teladani ketika tidak ada orang yang melihat?
Itulah bukti cinta yang sesungguhnya. Cinta itu yang akan menarik kita di Padang Mahsyar nanti.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna hadis ini adalah seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di surga. Hal itu karena kecintaan merupakan sebab kedekatan.
Lalu, bagaimana cara menumbuhkan cinta tersebut?
Cinta tidak datang secara tiba-tiba, melainkan perlu dirawat. Agar cinta bertumbuh subur, salah satu caranya adalah memperbanyak salawat.
Ciri umat Nabi saw., salah satunya adalah sering menyebut nama beliau. Setiap bersalawat, sejatinya kita sedang menguatkan tali cinta ke langit.






