Kemarau dan Keterbatasan Manusia
Oleh: Fajri (Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry)
Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika sebuah sungai besar mulai memperlihatkan dasar tubuhnya. Di bawah Jembatan Kalahien, Barito Selatan, Sungai Barito belakangan memperlihatkan wajah yang berbeda.
Permukaannya menyusut dan gosong pasir muncul di beberapa bagian. Alur utamanya memang masih berair dan dapat dilalui kapal, tetapi perubahan tersebut memicu pertanyaan penting. Apa yang terjadi ketika sesuatu yang selama ini dianggap selalu tersedia mulai berkurang?
Pertanyaan itu menjadi kian krusial saat kemarau tidak hanya mengurangi pasokan air, tetapi juga menghadirkan api. Di Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius.
BNPB melaporkan karhutla terjadi di sejumlah wilayah hingga 21 Agustus. Di Kalimantan Timur saja, hingga 22 Agustus tercatat 273 kejadian karhutla dengan luas area terbakar lebih dari 752 hektare.
Di Kotawaringin Barat, sebagian wilayah bahkan mengalami hari tanpa hujan selama 31 hingga 60 hari. Kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih pun kian meningkat.
Kemarau tidak lagi sekadar persoalan perubahan cuaca. Musim kering ini menyentuh aspek air, hutan, kesehatan, kehidupan petani, ekonomi masyarakat, hingga cara manusia memandang dirinya sendiri.
Di tengah kemarau, manusia dipaksa berhadapan dengan satu kenyataan yang sering terlupakan. Manusia memiliki keterbatasan.
Ketika Manusia Merasa Mampu
Manusia hidup pada zaman saat kemampuan dirinya kian besar. Satelit digunakan untuk membaca awan, radar cuaca memantau hujan, bendungan menyimpan air, pompa menarik air tanah, irigasi mengalirkan air ke sawah, serta teknologi modifikasi cuaca meningkatkan peluang hujan.
Kini manusia bahkan memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang mampu mengolah data dalam jumlah raksasa. Semua perkembangan tersebut merupakan kemajuan yang tidak perlu ditolak.
Namun, kemarau menghadirkan batas yang sederhana. Manusia dapat membaca indikator hujan, tetapi tidak kuasa memerintahkan hujan untuk turun.
Manusia dapat menghitung kemungkinan hujan, memantau pergerakan awan, serta merancang rekayasa teknis. Akan tetapi, manusia tidak dapat memerintahkan langit agar menurunkan hujan di tempat dan waktu yang persis diinginkan.
Kemarau seolah meruntuhkan sebuah ilusi modern. Ilusi tersebut menganggap bahwa makin maju teknologi, makin besar pula kuasa manusia atas alam.
Realitasnya justru bisa jadi sebaliknya. Makin banyak manusia mempelajari alam, makin seharusnya manusia menyadari betapa sedikit hal yang benar-benar dapat dikendalikan.






