Doa Kesabaran
Kesabaran sangat diperlukan dalam setiap melakukan aktivitas. Dengan sabar, seseorang akan terhindar dari putus asa dan kegagalan dalam mencapai tujuan.
Selain sabar, dibutuhkan tekad yang kokoh. Dengan tekad yang kokoh, seseorang mampu menghadapi berbagai tantangan.
Oleh karena itu, penting untuk memanjatkan doa agar diberikan kesabaran dan hati yang teguh. Berikut adalah doa dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 250:
رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
Doa ini dapat dibaca oleh siapa pun agar Allah Swt. melimpahkan kesabaran dan keteguhan dalam menjalani kehidupan. Serta, agar terus mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah Swt. dari setiap upaya buruk orang-orang yang jahat.
Allah Swt. berfirman:
يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 200).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, dalam ayat di atas Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman sesuai dengan konsekuensi dan besarnya keimanannya dengan empat hal. Yaitu ishbiru, shaabiruu, raabithu, dan bertakwalah kepada Allah.
Ishbiru (bersabarlah) berarti menahan diri dari maksiat. Shaabiruu (kuatkanlah kesabaranmu) berarti menahan diri dalam melakukan ketaatan.
Raabithu (bersiap siagalah) adalah banyak melakukan kebaikan dan mengikutkannya lagi dengan kebaikan. Sedangkan takwa mencakup semua hal tadi.
Mengapa butuh sabar dalam ketaatan?
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa dalam melakukan ketaatan butuh kesabaran karena ketaatan itu akan membebani seseorang dan mewajibkan sesuatu pada jiwanya.
Ketaatan itu terasa berat bagi jiwa. Sebab, ketaatan itu hampir sama dengan meninggalkan maksiat, yaitu terasa berat bagi jiwa yang senantiasa memerintahkan pada keburukan (nafs ammarah bissu’).
Sabar dalam menjauhi maksiat.
Jiwa seseorang biasa memerintahkan dan mengajak kepada keburukan. Maka, hendaklah seseorang menahan diri dari perbuatan haram seperti dusta, menipu, makan harta dengan cara batil, berzina, minum minuman keras, mencuri, dan berbagai macam bentuk maksiat lainnya.






