SEHAT-BUGAR

Batasi Konsumsi Gula dan Garam demi Jaga Ginjal Sehat

JAKARTA (Suaraislam.id)— Konsumsi minuman manis tidak secara langsung menyebabkan gagal ginjal, namun asupan gula berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes yang dalam jangka panjang berpotensi memicu kerusakan ginjal apabila tidak terkontrol.

“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong, Mutalib Abdullah, dalam keterangannya pada Selasa (01/09).

Ia mengatakan penyakit ginjal dapat terjadi pada usia muda. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, penyakit ginjal kronis ditemukan pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 0,02 persen, usia 25–34 tahun sebesar 0,07 persen, dan usia 35–44 tahun sebesar 0,11 persen.

Sementara itu, data BPJS Kesehatan yang dikutip Kementerian Kesehatan mencatat 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisis sepanjang 2024.

Menurut dr. Mutalib, kerusakan ginjal dapat berlangsung perlahan dan pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala khas. Diabetes dan hipertensi merupakan dua penyebab penting penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak sistem penyaringan ginjal, sedangkan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah pada ginjal.

Selain konsumsi gula berlebihan, faktor risiko lainnya meliputi pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, merokok, berat badan yang tidak terkontrol, serta penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan. Penyakit ginjal juga dapat disebabkan batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain perubahan frekuensi atau jumlah urine, urine berbusa secara menetap, pembengkakan pada kaki, mudah lelah, mual, penurunan nafsu makan, serta tekanan darah yang sulit dikontrol.

Pemeriksaan fungsi ginjal dapat dilakukan melalui tes darah untuk mengetahui kadar kreatinin dan memperkirakan estimated glomerular filtration rate (eGFR), serta pemeriksaan urine untuk mendeteksi albumin atau protein.

“Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala,” kata dr. Mutalib.

Ia menambahkan penyakit ginjal tidak secara otomatis membuat seseorang harus menjalani cuci darah. Hemodialisis dapat diperlukan apabila fungsi ginjal telah mengalami penurunan sangat berat dan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara memadai.[]

Sumber: ANTARA

Back to top button