MUDA

Mager Bikin Baper

Oleh: Tjandra Sarie Astoeti (Pemerhati Generasi)

Anak muda zaman sekarang sering kali terjebak di antara dua kondisi yang saling berkaitan: mager (malas gerak) dan baper (bawa perasaan). Fenomena ini menjadi sebuah siklus psikologis kasual sekaligus jebakan kasat mata, tempat rasa malas bergerak justru menjadi pintu masuk utama bagi perasaan terbawa emosi yang berlebihan.

Di permukaan, keduanya terlihat sama sekali tidak berhubungan. Mager berkaitan dengan kondisi fisik yang mendadak enggan bergerak dari tempat tidur. Sementara itu, baper berurusan dengan kondisi jiwa yang mendadak aktif berlebihan untuk menganalisis pesan singkat selama berjam-jam hanya karena perbedaan tanda baca.

Namun, dua hal yang tampaknya bertolak belakang ini justru sering berkolaborasi merusak fokus dan kewarasan. Ketika seseorang berada di fase paling malas dan menghabiskan waktu dengan rebahan, niat produktif biasanya berada di titik terendah.

Di sinilah letak bahayanya. Mager memberikan terlalu banyak waktu luang untuk menyendiri. Waktu luang berlimpah yang berpadu dengan rasa bosan menjadi bahan bakar utama bagi pikiran untuk menciptakan skenario yang belum tentu nyata.

Baper di tengah kondisi mager sangat melelahkan secara lahir dan batin. Fisik memang diam di atas kasur, tetapi energi habis terkuras untuk memikirkan hal-hal yang belum pasti. Seseorang bisa sangat mager untuk sekadar mandi, tetapi tidak pernah mager untuk stalking akun media sosial.

Kesendirian yang Memancing Imajinasi

Saat seseorang menghabiskan waktu berjam-jam untuk rebahan, ia memiliki terlalu banyak waktu luang dan minim distraksi fisik. Akibatnya, otak menjadi lebih rentan memikirkan dan membesar-besarkan hal-hal kecil, seperti balasan pesan yang singkat atau sapaan sekilas.

Kondisi ini menciptakan ironi antara fisik yang tidak berdaya karena malas bergerak dan emosi yang justru bekerja keras memikirkan seseorang. Mager beranjak dari kasur kerap berjalan beriringan dengan aktivitas overthinking.

Terkadang, rasa baper sengaja dipelihara di tengah rasa mager karena dianggap sebagai satu-satunya hal menarik untuk memecah kebosanan saat mati gaya di dalam kamar.

Pandangan Islam

Pandangan Islam terhadap fenomena mager dan baper—khususnya terkait lawan jenis di luar ikatan pernikahan—sangat tegas, tetapi tetap realistis dalam menghadapi sifat dasar manusia.

Dalam perspektif Islam, kedua hal ini dipandang sebagai sebuah rantai kondisi yang bisa bernilai negatif jika dibiarkan tanpa kendali. Islam memandang mager atau kemalasan sebagai sifat yang harus dihindari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahkan rutin berdoa agar dilindungi dari rasa lemah dan malas (‘ajzu wal kasal).

Membuang-buang waktu secara tidak produktif dianggap sebagai bentuk kesia-siaan atas nikmat waktu yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Sementara itu, ketika rasa baper diarahkan kepada seseorang yang belum halal, Islam memandangnya sebagai pintu awal yang mendekati perbuatan zina hati. Perasaan suka atau cinta itu sendiri adalah fitrah anugerah Allah, tetapi cara merespons dan memelihara perasaan tersebut tetap diatur secara ketat.

1 2Laman berikutnya
Back to top button