Ilusi ‘Lipstick Effect’ dan Rapuhnya Spiritual Gen Z
Oleh: Wendy Lastwati, S.Sos. (Anggota Komunitas Muslimah Menulis [KMM] Depok)
Lima puluh satu persen Gen Z di Indonesia tidak merasa aman dari segi finansial. Hal itu dikutip dari laporan Indeks Ketahanan Finansial Sun Life pada tahun 2025 lalu.
Dalam survei tersebut, Gen Z tercatat sebagai golongan paling rentan secara finansial dan memiliki ketahanan jangka panjang terendah. Kondisi ini terjadi karena Gen Z tumbuh pada era ekonomi yang penuh ketidakpastian dan tekanan biaya hidup yang tinggi.
Inflasi yang terjadi beberapa tahun terakhir membuat sebagian besar orang kesulitan menyeimbangkan kebutuhan harian dengan rencana keuangan jangka panjang. Akibatnya, fokus keuangan Gen Z bergeser ke tujuan jangka pendek.
Sebagai bukti, laporan IDN Research Institute pada tahun 2024 mencatat sebanyak 41 persen prioritas pengeluaran Gen Z dialokasikan untuk kebutuhan gaya hidup. Pengeluaran ini meliputi jajan impulsif seperti camilan, memesan makanan secara daring (online), hingga minum kopi estetik.
Aktivitas kumpul bersama teman di kafe atau tempat yang sedang tren dianggap penting untuk memenuhi kebutuhan sosial. Di samping itu, ada pemenuhan kebutuhan busana dan penampilan fisik seperti kosmetik serta pelembab kulit (skincare).
Gaya hidup seperti ini kini telah menjadi hal yang lumrah.
Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga penyembuhan (healing) tipis-tipis. Bagi sebagian besar Gen Z, membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja sebulan penuh.
Fenomena ini memicu pertanyaan penting mengenai kebiasaan self-reward. Apakah hal ini benar-benar mencerminkan gaya hidup konsumtif yang murni boros, atau justru merupakan mekanisme pertahanan generasi muda dalam menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis?
Suburnya narasi self-reward ini tidak lepas dari paparan dunia maya. Dalam survei IDN Research Institute 2024, tercatat 100 persen Gen Z di Indonesia mengakses internet setiap hari.
Sebagian besar waktu mereka dihabiskan pada platform media sosial seperti Instagram dan TikTok. Fakta tingginya akses digital ini berjalan beriringan dengan perilaku konsumsi kompensatoris di tengah ketidakpastian ekonomi.
Fenomena pengalihan daya beli saat kondisi ekonomi sulit ini dijelaskan dalam teori lipstick effect (efek lipstik). Teori ini menyatakan bahwa konsumen cenderung tetap membeli barang mewah kecil (affordable luxuries) ketika barang mewah yang besar terasa mustahil terjangkau.
Efek lipstik terjadi ketika Gen Z membentur realitas finansial yang keras. Melambungnya harga aset jangka panjang, seperti rumah, membuat tujuan pengeluaran generasi muda secara rasional beralih.
Daripada menabung demi masa depan yang belum pasti, Gen Z cenderung mengonsumsi barang mewah kecil seperti kosmetik premium, perawatan diri, atau kopi estetik. Barang-barang tersebut memberikan kepuasan instan (instant gratification) yang masih masuk akal bagi anggaran mereka yang terbatas.
Celakanya, pelarian emosional lewat efek lipstik ini diamplifikasi secara agresif oleh industri digital. Masih dalam laporan IDN Research Institute 2024, sebanyak 28 persen Gen Z mengakui keputusan pembelian mereka dipengaruhi oleh promosi pemengaruh (influencer) media sosial.
Sementara itu, 19 persen di antaranya memanfaatkan fasilitas Beli Sekarang, Bayar Nanti (Buy Now, Pay Later / BNPL) untuk membiayai transaksi tersebut.
Analisis dari Purwanto (2024) di Kompas.id menegaskan bahwa kemudahan akses keuangan digital ini tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Akibatnya, alih-alih mendapatkan ketenangan psikologis, kelompok usia muda ini justru menanggung risiko tertinggi mengalami gagal bayar pada pinjaman daring dan akun paylater.
Jika dibedah lebih dalam, fenomena kerapatan finansial dan pelarian konsumtif ini tidak terjadi di ruang hampa.






