LAPSUS

25 Tahun Tragedi 9/11: Saat Teori Konspirasi Dijadikan Senjata Politik Arus Utama AS

Washington (Suaraislam.id) — Mengetik kata kunci “teori konspirasi 9/11” di kolom pencarian YouTube akan menampilkan deretan figur yang siap membeberkan apa yang mereka klaim sebagai “kejadian sebenarnya.”

Beragam video memperlihatkan komentator seperti Joe Rogan dan Tucker Carlson memberikan pandangan mereka, berdampingan dengan narasi yang menyalahkan CIA, deep state, hingga Illuminati. “Sabotase dari Dalam?” bunyi judul pada salah satu miniatur video (thumbnail) yang telah ditonton lebih dari 500.000 kali, sebelum menampilkan rekaman menara kembar World Trade Center yang terbakar pada 11 September 2001.

Dua puluh lima tahun setelah dua pesawat menghantam Menara Kembar di New York City dan menewaskan hampir 3.000 orang, teori konspirasi terus bertahan. Narasi-narasi ini justru kian berkembang dan bertransformasi. Jika dahulu teori konspirasi kerap diidentikkan dengan kelompok marjinal, sejak 2016—saat istilah post-truth dinobatkan sebagai kata tahun ini oleh Kamus Oxford—konspirasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya politik.

Di era fake news, merosotnya kepercayaan publik terhadap media arus utama dan pemerintah membuat teori konspirasi kian berkelindan dengan politik praktis. Contohnya terlihat pada fenomena QAnon hingga klaim palsu kecurangan Pemilu AS 2020 yang memicu penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 oleh pendukung Donald Trump. Belakangan, gelombang klaim tanpa bukti yang menuduh keterlibatan Israel dalam serangan 11 September mulai marak di media sosial, memanfaatkan kemarahan publik atas genosida Israel di Gaza serta persepsi mengenai pengaruh Israel dalam politik AS.

Akibatnya, teori konspirasi bergeser dari pinggiran menuju arus utama. Narasi tersebut menawarkan penjelasan semu atas kecemasan realitas, sekaligus menjadi alat politisi sayap kanan untuk mengeksploitasi keresahan demi kepentingan politik.

Kecurigaan terhadap negara memiliki akar mendalam dalam budaya politik Amerika. Puluhan tahun sebelum peristiwa 9/11, teka-teki pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada 1963 telah melahirkan sederet teori spekulatif.

Namun, peristiwa 9/11 memiliki dampak berbeda karena disiarkan secara langsung di televisi. Tragedi ini menjadi tontonan yang disaksikan secara riil oleh masyarakat dunia. Peristiwa tersebut “terrekam secara seketika,” catat Hugo Drochon, Profesor Madya Teori Politik dari Universitas Nottingham.

“Masyarakat menyaksikannya di televisi,” kata Drochon. “Amerika Serikat berada di pusat perhatian dunia, dan ini menjadi guncangan hebat. Ada unsur drama spektakuler di dalamnya—membajak pesawat dan menabrakkannya ke World Trade Center.”

Tragedi itu disusul oleh dua invasi militer yang kian mengikis kepercayaan terhadap pemerintah AS. Kurang dari sebulan pascaserangan, AS menginvasi Afganistan. Pada Maret 2003, koalisi pimpinan AS menginvasi Irak dengan dalih kepemilikan senjata pempemusnah massal oleh Saddam Hussein—klaim yang belakangan terbukti tidak benar.

Kebohongan pemerintah tersebut pada akhirnya menyuburkan persepsi konspiratif di tengah masyarakat. “Kebohongan melahirkan ketidakpercayaan, dan terdapat korelasi erat antara ketidakpercayaan dengan kepatuhan pada teori konspirasi,” tutur Drochon.

Selain itu, seperempat abad terakhir menyaksikan perubahan dramatis dalam pola konsumsi informasi. Serangan 11 September menjadi peristiwa berskala besar pertama yang bergulir bersamaan melalui liputan berita 24 jam dan budaya internet yang baru lahir.

“Teori konspirasi awal muncul berbarengan dengan hadirnya TV kabel dan berita nonstop,” ungkap David Robertson, pakar teori konspirasi, kepada Al Jazeera.

“Saat 9/11 terjadi, masyarakat menyaksikan liputannya secara langsung. Hal itu membuka celah bagi publik untuk mencari kelemahan bukti dan memperdebatkannya, terlebih dengan pesatnya pertumbuhan internet.”

1 2Laman berikutnya
Back to top button