Hadir di Masjid Ibn Khaldun, Dai asal Jepang Kyoichiro Sugimoto Beri Kisah Dakwah Inspiratif
Bogor (Suaraislam.id) – Suasana Kajian Ahad Pagi di Masjid Ibn Khaldun Bogor hari ini Ahad (20/9/2026) terasa berbeda. Di hadapan ratusan jemaah yang diasuh KH Didin Hafidhuddin, hadir seorang tamu istimewa dari Negeri Sakura: Dr. Kyoichiro Sugimoto, dai asal Jepang yang mendedikasikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk membangun dakwah Islam di tengah masyarakat Jepang.
Kehadiran Sugimoto diperkenalkan oleh pakar ekonomi syariah sekaligus putra Kiai Didin, Irfan Syauqi Beik, yang menyebutnya sebagai salah satu figur paling menonjol dalam dakwah Islam di Jepang.
“Kita kedatangan seorang tamu yang sangat spesial. Beliau adalah Dr. Kyoichiro Sugimoto, salah satu figur utama dakwah di Jepang. Beliau masuk Islam pada 1996 dan kini memimpin Chiba Islamic Cultural Center di Masjid Nishi Chiba. Mudah-mudahan saudara-saudara kita di Jepang terus diberi kekuatan oleh Allah untuk menyebarkan cahaya Islam di Negeri Sakura,” ujar Irfan.
Namun yang paling menyentuh bukanlah gelar doktor ataupun posisinya sebagai pimpinan pusat dakwah di Chiba. Yang menggetarkan hati jemaah justru kisah bagaimana seorang pemuda Jepang menemukan Islam melalui keramahan sebuah keluarga miskin di Bangladesh.
Sugimoto mengawali kisahnya dengan mengenang masa kuliahnya pada 1996. Saat itu ia bersahabat dengan seorang mahasiswa Muslim asal Bangladesh yang kemudian mengundangnya berkunjung ke negaranya.
Ia mengaku terkejut. Bangladesh memang miskin secara materi, tetapi kaya akan kehangatan keluarga dan penghormatan kepada tamu. “Saya melihat orang-orang yang sangat baik, sangat ramah, dan ikatan keluarganya begitu kuat. Saya merasa, inilah kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia,” tuturnya.
Pengalaman itu justru membuatnya membandingkan kondisi sosial di Jepang. Ia menyinggung fenomena kodokushi atau lonely death—orang tua yang meninggal sendirian tanpa diketahui siapa pun selama berhari-hari. “Di Jepang ada sesuatu yang salah yang dimulai dari keluarga,” katanya lirih.
Pertanyaan sederhana terus menghantuinya: Mengapa masyarakat Bangladesh yang miskin bisa begitu bahagia dan penuh kasih? Jawabannya ia temukan ketika mulai membaca Al-Qur’an terjemahan bahasa Jepang.
Selama hampir satu tahun Sugimoto membaca Al-Qur’an, mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Dari situlah ia menemukan dua konsep yang menurutnya mengubah seluruh pandangan hidupnya: tauhid dan akhirat.
“Di Jepang orang berpikir hanya tentang dunia. Al-Qur’an mengajarkan bahwa dunia bukanlah akhir. Kehidupan yang sebenarnya adalah akhirat. Itu benar-benar menjadi worldview baru bagi saya,” ujarnya.
Ia mengatakan Islam menawarkan konsep kebahagiaan yang utuh: sukses di dunia sekaligus di akhirat, dengan jalan yang sangat sederhana, yakni tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.
Setelah satu tahun belajar dan berdialog dengan sahabat-sahabat Muslimnya, Sugimoto mengucapkan syahadat pada 1997. Masuk Islam ternyata bukan akhir perjuangan, melainkan awal tantangan yang lebih berat.
Sugimoto mengenang masa ketika belum ada internet. Mencari makanan halal, tempat shalat, hingga guru Al-Qur’an menjadi perjuangan sehari-hari. Kini tantangannya bergeser menjadi Islamofobia dan minimnya pemahaman masyarakat Jepang terhadap Islam.






