Jangan Sampai Anak-Anak Saling Membenci
Oleh: Siti Aisyah (Koordinator Komunitas Muslimah Menulis/KMM Depok)
Setiap orang tua tentu berharap anak-anaknya tumbuh menjadi saudara yang rukun. Ketika masih kecil, mereka bermain bersama, bercanda, dan saling membantu. Ibu tentu ingin ketika mereka dewasa kelak, rasa saling menyayangi, menjaga, dan membantu itu tetap terjaga.
Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada saudara kandung yang ketika dewasa justru saling menjauh, jarang berkomunikasi, mudah curiga, bahkan enggan bertegur sapa. Pertanyaan pun muncul, mengapa anak-anak tidak bisa akur?
Ternyata, keretakan hubungan antarsaudara tidak selalu bermula dari anak-anak itu sendiri. Tanpa disadari, pola komunikasi orang tua di rumah turut memicu pemicu kerenggangan hubungan mereka.
Jangan Mengadu kepada Anak
Ketika seorang ibu merasa kecewa kepada anak sulung, alih-alih berbicara langsung, ia justru menceritakannya kepada si adik. “Ibu sebenarnya kecewa sama kakakmu,” atau “Tolong kamu nasihati kakakmu. Kalau Ibu yang bicara, nanti dia malah melawan.”
Kalimat tersebut tampak sederhana, tetapi berpotensi memicu keretakan antarsaudara. Jika hal ini kerap dilakukan, anak yang menjadi tempat curahan hati dapat terbawa perasaan. Rasa kasihan kepada ibu lambat laun berubah menjadi kejengkelan terhadap saudaranya.
Dalam psikologi keluarga, pola komunikasi seperti ini dikenal sebagai triangulasi. Fenomena ini terjadi ketika masalah antara dua orang melibatkan pihak ketiga sebagai perantara atau pelampiasan emosi.
Cerita Sepihak Lahirkan Prasangka
Seorang ibu perlu berhati-hati saat menceritakan keburukan salah satu anak kepada saudaranya. Anak yang mendengar cerita sepihak tersebut tidak mengetahui kejadian sebenarnya sehingga berpotensi membentuk stigma negatif terhadap saudaranya.
Padahal, kenyataan yang terjadi belum tentu demikian. Akibat terus mendengar narasi negatif, timbul prasangka yang merenggangkan hubungan kakak dan adik hingga tak lagi saling menyapa.
Jangan Wariskan Masalah kepada Anak
Seorang ibu tidak boleh mewariskan masalah pribadinya kepada anak. Masalah yang semula hanya terjadi antara ibu dan anak sulung dapat meluas menjadi konflik antarsaudara akibat cerita yang terus diulang.
Anak sulung merasa adiknya selalu memusuhi dan membela ibu, sementara si adik menganggap kakaknya tidak peduli pada orang tua. Keduanya pun saling menjauh, padahal sebelumnya tidak pernah bertengkar.
Ibu perlu merenungkan hal ini sebagai orang tua. Jangan sampai anak-anak saling membenci bukan karena kesalahan mereka sendiri, melainkan akibat narasi dan prasangka yang terbangun di rumah.





