INTERNASIONAL

Berenang di Pesisir Khan Younis, Momen Langka Anak-Anak Gaza Lepas dari Trauma

Gaza (Suaraislam.id) — Bagi Camelia Hadi yang berusia tujuh tahun, berenang lebih dari sekadar aktivitas olahraga biasa. Kegiatan ini memberikan momen kebahagiaan sekaligus kesempatan baginya untuk kembali merasakan keceriaan masa kanak-kanak setelah bertahun-tahun diimpit bencana perang.

Tawa Hadi membahana saat ia berenang bersama puluhan anak lainnya di perairan pantai Khan Younis, Jalur Gaza selatan. Selama beberapa jam, ia kembali menikmati perannya sebagai anak-anak pada umumnya yang bermain air dan belajar berenang bersama rekan sebaya.

Namun, momen penuh keceriaan semacam ini merupakan hal yang sangat langka bagi Hadi.

Gadis kecil ini baru berusia empat tahun ketika perang pecah pada Oktober 2023, dan sejak saat itu ia telah terpaksa mengungsi lebih dari 20 kali akibat rumah keluarganya hancur. Deretan penderitaan tersebut memaksanya memikul beban hidup yang melebihi usianya, termasuk membantu keluarga mencari pasokan air dan roti.

“Saat berada di sini, saya merasa seperti anak-anak pada umumnya. Saya tertawa, bermain, dan belajar berenang. Saya berharap kami selalu bisa ke laut dan hidup tanpa rasa takut,” tuturnya.

Hadi merupakan satu dari ratusan anak yang bergabung dalam inisiatif “Swim With Gaza” (Berenang Bersama Gaza). Program rekreasi air ini digagas oleh Akademi Renang Tantish dan berlangsung hingga akhir bulan ini.

Inisiatif tersebut dirancang untuk memberi ruang bagi anak-anak dalam kegiatan olahraga dan rekreasi. Selain itu, program ini membantu melatih keterampilan berenang sekaligus memulihkan kondisi mental mereka dari trauma perang.

Di antara jajaran peserta, tampak Farah Hassan Abu Halima (11) yang mengaku sempat diselimuti rasa takut dan cemas sebelum mengikuti kelas renang. Namun, kekhawatiran tersebut perlahan sirna saat ia tiba di lokasi acara.

“Awalnya, saya merasa takut dan cemas, tetapi ketika mendengar tentang kursus-kursus tersebut, saya terdorong untuk mendaftar. Ketika tiba di sana, saya mendapati suasana yang luar biasa. Para pelatih renang dan kegiatan-kegiatan yang ada membuat kami bahagia dan membangkitkan semangat kami,” ungkap Halima.

Amjad Tantish, Kepala Akademi Renang Tantish, menyampaikan bahwa lebih dari 2.500 anak telah berhasil belajar berenang sejak program ini dibuka kembali pada Juni lalu setelah sempat terhenti akibat konflik.

Menurut Tantish, gerakan “Swim With Gaza” juga memicu gelombang aksi serupa di puluhan negara sebagai bentuk solidaritas internasional. Ia menegaskan bahwa agenda ini dihadirkan untuk mendampingi anak-anak dalam melewati periode trauma berat.

“Latihan renang ini bukan hanya soal olahraga. Kegiatan ini memberikan anak-anak kesempatan untuk bermain, bersenang-senang, dan melepaskan diri sejenak dari kondisi yang berat di sekitar mereka,” jelas Tantish.

Ia menambahkan bahwa kemampuan berenang sangat berguna secara praktis bagi anak-anak Gaza yang kerap beraktivitas di pesisir pantai. Program ini sekaligus menjadi wadah penghormatan bagi enam instruktur renang yang gugur akibat serangan perang, termasuk saudara kandung Tantish.

1 2Laman berikutnya
Back to top button