KH Abbas Aula: Hari Santri Jangan Berhenti pada Seremoni, Harus Jadi Momentum Pendidikan Karakter
Bogor (Suaraislam.id) – Peringatan Hari Santri Nasional harus menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter dan akhlak mulia, bukan sekadar seremoni tahunan. Pesan itu disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Ma’had Al-Qur’an wal Hadis (Maqdis), KH Muhammad Abbas Aula, dalam pengajian bulanan yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Santri Nasional di Jalan Cilubang Mekar, Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Kamis (22/10/2026).
Dalam ceramahnya, Kiai Abbas menegaskan, keberhasilan pendidikan Islam tidak cukup diukur dari seberapa banyak ilmu agama yang dikuasai seseorang. Lebih dari itu, ilmu harus tercermin dalam karakter, sikap, dan perilaku sehari-hari.
“Hari Santri ini, harusnya kita peringatkan sebagai hari pendidikan karakter. Untuk mengingatkan bahwa karakter seorang muslim yang lurus, itu seharusnya tercermin pada diri santri,” tegasnya.
Menurut Kiai Abbas, Hari Santri semestinya menjadi ruang refleksi bagi umat Islam untuk mengukur kembali sejauh mana ajaran agama benar-benar membentuk kepribadian. Sebab, memahami kebaikan tidak otomatis membuat seseorang mampu menjalankannya dalam kehidupan nyata.
Ia menekankan, pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan atau transfer of knowledge. Ilmu agama harus mampu membentuk kesadaran moral, menumbuhkan kejujuran, dan mendorong seseorang untuk konsisten menjalankan nilai-nilai yang diyakininya.
Dengan demikian, akhlak menjadi salah satu ukuran penting keberhasilan pendidikan. Seseorang boleh jadi memahami ajaran tentang kejujuran, tetapi pemahaman itu kehilangan makna apabila perilakunya masih bertentangan dengan nilai yang dipelajari.
Kiai Abbas juga menekankan pentingnya membangun akhlak kepada Allah SWT sebagai fondasi pembentukan karakter seorang muslim. Hal itu diwujudkan melalui ketaatan, rasa syukur, keikhlasan dalam beribadah, serta kesadaran akan kedudukan manusia sebagai hamba Allah.
Kesadaran spiritual tersebut, menurut pesan yang disampaikannya, tidak semestinya terbatas pada pelaksanaan ibadah ritual. Nilai-nilai keagamaan harus hadir dalam keputusan, sikap, dan tanggung jawab seseorang ketika berinteraksi dengan sesama.
Salah satu bentuk konkret pendidikan akhlak kepada Allah adalah mengajarkan shalat secara benar, baik dari sisi tata cara maupun penghayatan batin.
Pelaksanaan shalat harus memenuhi ketentuan syariat, mulai dari bersuci, syarat dan rukun, bacaan, hingga gerakan. Namun, ketepatan secara lahiriah juga perlu disertai kekhusyukan, ketundukan, dan kesadaran akan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Dengan demikian, shalat tidak seharusnya dipahami sebatas rutinitas ibadah. Lebih jauh, ibadah tersebut perlu memberikan dampak terhadap perilaku dan kualitas moral seseorang.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-‘Ankabut ayat 45 yang menjelaskan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Pesan tersebut menegaskan pentingnya menghubungkan pendidikan ibadah dengan pembentukan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Kiai Abbas mengingatkan, nilai-nilai yang terkandung dalam Hari Santri tidak boleh dibatasi hanya bagi mereka yang mengenyam pendidikan di pesantren. Sebagai peringatan nasional, Hari Santri juga menjadi momentum bagi seluruh umat Islam untuk melakukan introspeksi terhadap karakter dan akhlaknya.
Pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak. Namun, tanggung jawab menjaga moralitas tidak berhenti di lingkungan pendidikan agama. Setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam perilaku nyata.
rep: rifki






