SUARA PEMBACA

Pohon Zaitun Dihancurkan, Rakyat Palestina Dipaksa Menyerah?

Oleh: Fatmah Ramadhani (Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)

Pohon zaitun bukan sekadar tanaman bagi rakyat Palestina. Pohon ini merupakan simbol identitas, sejarah, dan sumber penghidupan lintas generasi.

Penghancuran kebun zaitun bukan sekadar perusakan lahan pertanian. Aksi tersebut merupakan ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup rakyat Palestina di tanah air mereka.

Pada musim panen Oktober 2026, kekerasan terhadap petani Palestina kembali meningkat. Al Jazeera melaporkan serangan pemukim Israel terhadap petani yang sedang memanen zaitun di Tepi Barat.

Serangan tersebut diwarnai pembakaran pohon hingga penganiayaan terhadap jurnalis foto asal Amerika Serikat, Heidi Levine.

Kelompok pemantau hak asasi manusia asal Israel, Yesh Din, mencatat sedikitnya 170 serangan telah terjadi sejak akhir September.

Serangan semacam ini patut dibaca dalam sistem pendudukan yang lebih luas. Intimidasi terhadap petani dan jurnalis bertujuan mempersempit ruang hidup rakyat Palestina.

Kondisi tersebut memperkuat dugaan adanya upaya sistematis untuk memaksa warga Palestina meninggalkan tanah kelahirannya.

Kecaman Tanpa Tindakan Tegas

Serangan terhadap jurnalis Amerika mendorong Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak penghentian kekerasan. Serangan yang menimpa diplomat Eropa pun turut menuai kecaman serupa.

Sayangnya, respons diplomatik sebatas keprihatinan belum mampu menjamin keselamatan para petani. Langkah tersebut gagal menghentikan siklus kekerasan yang terus berulang.

Di sinilah tampak ketimpangan politik internasional. Kecaman diplomatik jarang berujung pada tindakan nyata yang mampu mengubah keadaan di lapangan.

Perhatian negara Barat yang baru menguat saat warga negaranya menjadi korban memicu pertanyaan mendasar. Apakah penderitaan petani Palestina belum cukup untuk mendorong tindakan tegas?

Lebih memprihatinkan lagi, negara-negara Muslim belum mampu menghadirkan kekuatan bersama yang efektif. Umat Islam tidak semestinya terus menggantungkan keselamatan saudaranya pada belas kasihan geopolitik global.

1 2Laman berikutnya
Back to top button