INTERNASIONAL

76 Tahun Menyaksikan Pergantian Pemimpin Malaysia, Baba Abdul Rahman Sebut Anwar Ibrahim Punya Keistimewaan

Kelantan (Suaraislam.id) – Usianya telah menginjak 76 tahun. Ia telah menyaksikan perjalanan panjang Malaysia sejak masa perdana menteri pertama hingga kepemimpinan saat ini. Dari pengalaman hidup selama lebih dari tujuh dekade itu, Tuan Guru Baba Abdul Rahman bin Omar memiliki pandangan tersendiri tentang kepemimpinan Perdana Menteri Malaysia ke-10, Datuk Seri Anwar Ibrahim.

Di hadapan ribuan jamaah yang memadati Dataran Muhammadi, Kota Bharu, Kelantan, Sabtu malam (31/10/2026), ulama dan tokoh guru pondok terkemuka di Kelantan itu menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Anwar Ibrahim. Baginya, perhatian terhadap pondok pesantren dan para guru yang mengabdi di dalamnya merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Dalam acara Sebarkan Salam @ Kota Bharu Berselawat 2026 yang dihadiri lebih dari 3.000 peserta yang terdiri dari para ulama, guru pondok, santri, dan masyarakat umum itu, serta dihadiri langsung oleh Anwar Ibrahim, Baba Abdul Rahman mengawali pesannya dengan mengingatkan bahwa kekuasaan pada hakikatnya berada dalam ketentuan Allah SWT.

“Yang Amat Berhormat Perdana Menteri Malaysia, bukan manusia yang sesungguhnya melantik beliau. Bukan kita semua yang melantiknya. Hakikatnya, Allah-lah yang melantik beliau,” tuturnya.

Menurut Baba Abdul Rahman, manusia hanyalah sebab dan perantara. Terpilihnya seseorang menjadi pemimpin merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT.

Karena itu, ia mengajak masyarakat mendoakan agar Anwar Ibrahim senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang, serta kembali memperoleh kemenangan dalam pemilihan mendatang.

Mengenang Malaysia Sejak Kemerdekaan

Ada alasan mengapa pandangan Baba Abdul Rahman tentang kepemimpinan Anwar Ibrahim menarik perhatian. Ia bukan sekadar menyampaikan penilaian dari pengamatan sesaat. Pengalamannya menyaksikan perjalanan Malaysia telah berlangsung sejak negara itu meraih kemerdekaan pada 1957.

“Saya sendiri sudah berusia 76 tahun. Saya hidup sejak zaman perdana menteri pertama Malaysia. Saya mulai bersekolah pada tahun kemerdekaan Malaysia, yakni 1957,” ungkapnya.

Sejak masa sekolah hingga sekarang, ia mengaku telah menyaksikan dan mengetahui keadaan setiap perdana menteri yang memimpin Malaysia. Ia juga merasakan berbagai manfaat dari kepemimpinan para pemimpin yang silih berganti.

Namun, berdasarkan pengalaman panjang tersebut, Baba Abdul Rahman menilai kepemimpinan Anwar Ibrahim memiliki keistimewaan tersendiri.

“Menurut saya, nikmat dan kebaikan yang kita rasakan di bawah kepemimpinan Yang Amat Berhormat Perdana Menteri saat ini tidak dapat dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Tidak ada bandingannya,” katanya.

Penilaian itu terutama ia kaitkan dengan perhatian terhadap pondok-pondok pesantren dan para guru yang mengabdi di dalamnya. Ia menyebut, berkat kepemimpinan Anwar Ibrahim, para guru pondok kini merasa lebih tenang. Pondok-pondok yang sebelumnya berada dalam kondisi kurang baik dapat diperbaiki, sementara pesantren yang membutuhkan pembangunan memperoleh kesempatan untuk dibenahi.

Jangan Melupakan Kebaikan

Pesan utama Baba Abdul Rahman kemudian mengarah pada pentingnya bersyukur dan menghargai kebaikan orang lain. Ia mengingatkan bahwa ketidaksenangan terhadap seorang pemimpin tidak semestinya membuat seseorang menutup mata terhadap berbagai hal positif yang telah dilakukan.

Ia mengutip sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.”

Hadis tersebut, menurutnya, menjadi pengingat agar masyarakat tidak mudah melupakan jasa orang lain. “Lantas, mengapa kita ingin menjatuhkan beliau? Apa alasannya?” ujarnya.

Ia menilai, keinginan menjatuhkan seseorang tanpa alasan yang jelas mencerminkan hati yang tidak baik dan tidak bersih. Sikap demikian perlu dikoreksi karena manusia pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas seluruh perbuatannya.

“Kita harus ingat bahwa kita adalah hamba Allah. Kelak, kita akan ditanya oleh Allah SWT tentang segala sesuatu yang kita perbuat. Semua perbuatan kita akan diperhitungkan dan dihisab oleh-Nya,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Allah SWT mencintai keindahan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan.”

Dukungan Harus Dilandasi Keikhlasan

Meski secara terbuka menyampaikan dukungan agar Anwar Ibrahim kembali memperoleh kemenangan pada pemilihan mendatang, Baba Abdul Rahman mengingatkan agar dukungan tersebut tidak didorong oleh hawa nafsu maupun kepentingan pribadi.

“Kita harus ikhlas dalam perjuangan, semata-mata karena Allah, bukan karena kepentingan pribadi atau karena beliau semata,” pesannya.

Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap pondok-pondok pesantren dan keberlangsungan pendidikan para santri patut dihargai. Namun, dukungan politik tetap harus dilandasi keikhlasan, bukan kepentingan pribadi.

Di hadapan ribuan jamaah dalam majelis ilmu dan selawat itu, Baba Abdul Rahman menyampaikan pesan tentang hubungan antara kepemimpinan, rasa syukur, dan tanggung jawab moral seorang Muslim.

Ia menutup penyampaiannya dengan harapan agar segala urusan berakhir dengan kebaikan dan kemuliaan. []

Back to top button