MUDA

Aku ‘Scroll’ maka Aku Ada

Oleh: Keni Rahayu (Penulis Buku Self Love Asyik tanpa Toksik)

Bangun tidur ku terus scroll. Tidak lupa, ku scroll lagi. Habis scroll ku scroll terus, menghabiskan sisa waktuku. Kalau Anda membaca kalimat tadi menggunakan nada lagu Bangun Tidur, fiks kita seumuran.

Tidak bisa dimungkiri, aktivitas scrolling tak pernah lepas dari kehidupan manusia hari ini. Namun, tentu berbeda antara seseorang yang memiliki nilai (value) dan yang belum. Seseorang yang bernilai akan memanfaatkan aktivitas scrolling untuk hal-hal berdaya guna.

Bagaimana dengan pemuda hari ini? Apakah aktivitas scrolling mereka bermanfaat? Media sosial kini bukan sekadar tempat anak muda mencari hiburan. Data We Are Social 2025 menunjukkan bahwa 57,5% pengguna memanfaatkan media sosial untuk mengisi waktu luang, 51% mencari inspirasi kegiatan dan barang, 50% ingin mengetahui hal yang sedang ramai, bahkan 38,1% mencari produk untuk dibeli.

Artinya, saat membuka media sosial, pemuda tidak hanya melakukan scroll dan membunuh waktu. Mereka menyerap beragam informasi, menemukan tren, serta membentuk preferensi. Banyak kreator dan pemengaruh (influencer) menyajikan konten tutorial menjadi cantik, tempat healing viral, dan gambaran sukses yang menyenangkan. Tanpa disadari, konten yang ditonton hari demi hari berubah menjadi keinginan, lalu dianggap sebagai kebutuhan. Standar kebahagiaan pun menjadi tinggi sebagaimana yang disaksikan di media sosial.

Nilai Ekonomi dan Sekularisme

Di balik media sosial yang diakses gratis, terdapat perputaran ekonomi bernilai fantastis. Sepanjang 2025, Meta membukukan pendapatan sebesar US$196,18 miliar atau setara Rp3.550 triliun (estimasi kurs Rp18.094 per dolar AS) dari iklan saja (Meta, 2025). Keuntungan sebesar itu diperoleh melalui aktivitas para pengguna media sosial. Interaksi dan aktivitas mereka dikumpulkan sebagai data landasan penyajian iklan tertarget.

Aktivitas pengguna di media sosial memiliki nilai ekonomi yang besar. Melalui algoritma, data aktivitas, iklan tertarget, dan pemengaruh, produk tidak semata-mata ditampilkan dalam bentuk fisik. Produsen menjual dagangan dalam kemasan narasi menarik yang dibentuk menjadi tren, kebutuhan, hingga gaya hidup. Inilah hal yang sejatinya membahayakan.

BPS mencatat sebanyak 88,85% pemuda Indonesia usia 16–30 tahun menggunakan internet untuk mengakses media sosial (Maret 2025). Artinya, generasi muda sangat dekat dengan ruang maya. Tanpa disadari, mereka menjadi objek pengeruk keuntungan para kapitalis. Dengan mengakses media sosial setiap hari, generasi muda terkungkung dalam algoritma berdasarkan riwayat penjelajahan. Mereka seolah memilih, padahal pilihan tersebut telah disajikan sesuai kepentingan pasar.

Beginilah kapitalisme dan sekularisme bersinergi. Kapitalisme meraup keuntungan dari para pengguna algoritma, sedangkan sekularisme memperkokoh jeratan dengan membentuk pola pikir individualistis, materialistis, dan konsumtif. Kombinasi ini menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai Islam.

Generasi Mulia, Batu Bata Peradaban

Sebagai pemuda Muslim yang hidup di era tren, viral, dan pemengaruh media sosial, kita seharusnya menyadari bahwa semua hal tersebut tidak bersifat netral. Pilihan hidup yang dikira muncul dari diri sendiri sebenarnya merupakan kumpulan informasi harian. Jika informasi mayoritas diambil dari media sosial tanpa filter, kita sejatinya memperpanjang propaganda kapitalis di baliknya. Informasi yang ditelan mentah-mentah tersebut pada akhirnya diyakini, diamalkan, dan disebarkan.

Generasi yang seharusnya menjadi fondasi peradaban justru berceceran di pinggir jalan dan hanya meramaikan perjalanan tanpa tujuan. Tidak semua hal yang viral harus dicoba. Sebaliknya, pemuda harus selektif dan kritis terhadap berbagai konten yang berseliweran di media sosial.

Dalam ideologi kapitalisme, keuntungan materi adalah tujuan utama. Berbeda dengan Islam yang memandang generasi sebagai penerus peradaban mulia. Pembangunan peradaban membutuhkan komponen berkualitas—bagaikan batu bata, semen, dan pasir—agar bangunan berdiri kokoh. Begitu pula seharusnya pemuda Islam dipersiapkan.

Dalam narasi sekularisasi, eksistensi pemuda dijunjung melalui istilah self-worth, self-love, dan self-healing sebagai jalan menemukan kebahagiaan. Sebaliknya, Islam menanamkan fitrah iman sejak lahir melalui kumandang azan di telinga kanan bayi. Pada usia tamyiz, anak mulai diajarkan rasa tanggung jawab melalui salat untuk memosisikan diri sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta.

Pada usia muda, mereka dipersiapkan menjadi Muslim yang terampil melalui pendidikan di rumah dan dukungan sistem pendidikan Islam. Seluruh aspek dalam sistem Islam—ekonomi, sosial budaya, politik, pendidikan, hingga peradilan—berdiri kokoh dalam peradaban yang mulia.

Demikianlah peradaban yang dicontohkan Rasulullah Saw. dan dilanjutkan oleh para sahabat dalam fase khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Sebuah fase kepemimpinan umat Islam yang disebutkan dalam hadis akan hadir kembali.

“…Kemudian akan berlangsung kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian.” (HR. Ahmad)

Bukankah generasi hari ini yang seharusnya membangun fondasi tersebut? Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Back to top button