OPINI

Abdul El-Sayed Tidak Harus Mengikis Identitas Keislamannya untuk Menang

Setelah kemenangan Wali Kota Zohran Mamdani di New York, para pengkritik berspekulasi bahwa kandidat Muslim yang vokal tentang Palestina hanya bisa menang di kota metropolitan yang liberal, bukan di negara bagian yang dimenangi Trump pada Pemilu 2024. El-Sayed menjangkau dari kota kecil dan desa hingga kota industri dan pinggiran kota, mengunjungi gereja serta masjid, hingga akhirnya menang di tingkat negara bagian.

Michigan telah lama menjadi pusat kehidupan Muslim Amerika, mulai dari restoran dan kedai kopi Arab ternama di Dearborn hingga Hamtramck, kota mayoritas Muslim pertama di AS. Berbagai generasi telah membangun masjid, sekolah, bisnis, dan lembaga sembari menghadapi kecurigaan serta diskriminasi. Terdapat ironi ketika Michigan memilih seorang alumnus Muslim dari University of Michigan, kampus yang sempat menghadapi gugatan hukum atas perlakuannya terhadap demonstran antigenosida. Beberapa suara yang dahulu dianggap berbahaya di dalam kampus kini menemukan wadahnya di bilik suara untuk pertama kalinya.

Warga Muslim lainnya di seluruh negeri juga mencetak sejarah. Mentor, sahabat, dan rekan sejawat saya, Adam Hamawy, yang bersama saya menjalankan misi medis di Palestina untuk mendokumentasikan dampak kesehatan masyarakat, memenangi kursi kongres di New Jersey dan datang ke Michigan untuk mendukung Abdul. Darializa Avila Chevalier, Aber Kawas, Nabeela Syed, dan banyak lainnya meraih kursi di Kongres serta dewan perwakilan negara bagian di seluruh negeri. Mereka menolak anggapan bahwa bungkam terhadap pelanggaran hak asasi manusia adalah syarat untuk berpartisipasi dalam politik.

Kendati demikian, perayaan ini tidak berarti kami menghentikan semua penilaian kritis. Beberapa warga Muslim yang saya ajak bicara menentang keras keputusan Abdul untuk berkampanye bersama mantan Wakil Presiden Kamala Harris dan mantan Presiden Barack Obama. Kebijakan pemerintahan mereka, mulai dari memfasilitasi genosida di Gaza hingga serangan drone terhadap warga sipil di beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, tetap membekas di benak masyarakat. Saya memahami kemarahan mereka dan memahami kekhawatiran tentang normalisasi terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kematian anak-anak. Namun, banyak dari kami tetap memilih Abdul karena memercayai ketulusannya dan karena ia berulang kali menegaskan bahwa ia tidak menyetujui setiap kebijakan dari pihak-pihak yang mendukung kampanyenya. Saya tidak berhalusinasi bahwa satu orang senator saja akan mampu menghentikan sistem dan struktur eksploitasi yang mendanai mesin perang di luar negeri sekaligus mengabaikan masyarakat di dalam negeri. Representasi Muslim berisiko menjadi tidak berarti jika dianggap sebagai satu-satunya sarana pembebasan.

Hal itulah yang membuat esensi kampanyenya menjadi krusial. Abdul menghubungkan perjuangan melawan perang berkepanjangan dengan perjuangan memperoleh layanan kesehatan, air bersih, dan upah yang layak. Ia berbicara tentang seorang ibu yang berjuang menyediakan obat-obatan bagi anaknya dan seorang pekerja yang memperjuangkan serikat buruh. Ia menegaskan bahwa uang yang dihabiskan untuk menghancurkan anak-anak di negara lain membawa dampak langsung bagi anak-anak di AS. Pendekatan politiknya mengajak publik Amerika untuk menyadari kepentingan mereka sendiri sekaligus menunjukkan rasa kemanusiaan terhadap sesama.

Keterpilihannya memang tidak langsung mengubah kebijakan pemerintah AS menjadi lebih adil dalam semalam. Keputusan ini tidak mengembalikan nyawa satu pun anak Palestina, tidak menghapuskan keterlibatan Partai Demokrat, Washington, maupun kita semua. Hal ini juga tentu tidak membebaskan Abdul dari pengawasan selama enam tahun masa jabatannya di Senat.

Namun, kemenangan ini meruntuhkan satu kebohongan yang membodohi: bahwa Muslim Amerika harus memilih antara menjadi Muslim yang teguh atau menjadi bagian utuh dari kehidupan publik Amerika.

Selama bertahun-tahun, kami diminta merendahkan suara, menyamarkan nama, dan meninjau ulang apa yang kami perjuangkan jika ingin berhasil. Pada hari Selasa itu, Michigan memberikan putusannya. Pria yang berusaha mereka singkirkan kini akan duduk di Senat AS. Alhamdulillah, ia tidak perlu mengikis keislamannya untuk mengabdi bagi negara bagiannya — dan kita semua tidak perlu membatasi identitas diri untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik bagi diri kita dan generasi mendatang.[]

Bilal Irfan adalah seorang ahli bioetika yang pernah melakukan penelitian di Brigham & Women’s Hospital Harvard dan University of Michigan. Ia aktif dalam kajian pelanggaran hak atas kesehatan dan hak asasi manusia, serta menjabat sebagai Associate Editor di Medicine, Conflict and Survival.

Sumber: Aljazeera.com

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button