Amalan Suci yang Terkotori
Akibatnya, kontaminasi silang pada daging kurban menjadi sebuah hal yang tidak sewajarnya tak terhindarkan. Jeroan diletakkan begitu saja di atas terpal plastik kotor berdampingan dengan tumpukan daging paha siap cetak.
Ironi terbesar justru terjadi pada aspek spiritual para pelaku dan panitia kurban sendiri. Sepanjang hari, Mahbub dan Karim begitu bersemangat mengurus pemotongan hingga mengangkat karung-karung daging.
Namun, kedua pria itu bersama belasan pemuda lainnya tetap asyik berkutat dengan pisau setiap kali suara azan berkumandang. Mereka mengabaikan panggilan salat dengan begitu enteng seolah-olah ibadah sosial bisa menggantikan kewajiban utama.
Mereka terjebak dalam euforia mengurus amalan sunah dengan cara mengabaikan ibadah yang wajib. Kelalaian ini tentu menodai hakikat kurban yang esensinya adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kupon Karib dan Distribusi yang Pincang
Persoalan kurban tidak berhenti pada urusan darah saja, melainkan berlanjut pada karut-marut distribusi. Di ruang sekretariat, Rina dan Husna tampak kewalahan menghadapi berbagai protes dari warga setempat.
Sistem pembagian kupon yang mereka kelola berantakan karena datanya tidak pernah diperbarui selama bertahun-tahun. Akibatnya, nama warga yang sudah meninggal masih tercantum, sedangkan warga miskin baru justru terabaikan.
Lebih parah lagi, praktik nepotisme tumbuh subur di balik meja kerja panitia kurban. Hal tersebut memicu kecemburuan sosial yang merusak nilai-nilai utama dari ibadah tahunan ini.






