NASIONAL

Amien Rais Prediksi Jokowi ‘Klipuk’ Sebelum 2029, Prabowo Harus Berani Lepas dari Bayang-Bayangnya

Kritik terhadap Kapolri dan Panglima TNI

Dalam ceramahnya, Amien juga menyampaikan pandangannya mengenai konfigurasi kekuasaan nasional.

Ia berpendapat bahwa secara teori Jokowi seharusnya telah kehilangan pengaruh politik. Namun, menurutnya, hal itu tidak terjadi karena Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo masih tetap menjabat dan Presiden Prabowo dinilai enggan mengambil sikap yang berbeda.

Amien bahkan mengatakan Prabowo juga terlihat tidak memiliki keberanian politik untuk berbeda dengan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.

“Dukungan politik dalam negeri masih dinikmati Jokowi dari Kapolri dan Panglima TNI,” ujarnya.

Menyinggung Dukungan dari China

Tidak hanya berbicara mengenai faktor domestik, Amien juga menilai terdapat dukungan politik, ekonomi, dan diplomatik dari Republik Rakyat China terhadap Jokowi.

Ia menyebut Presiden China Xi Jinping sebagai sosok yang sangat dekat secara politik dengan Jokowi, bahkan mengibaratkannya sebagai “bapak” atau “paman” Jokowi.

Lebih jauh, Amien menduga terdapat dukungan dana dalam jumlah sangat besar yang digunakan untuk menjaga citra politik Jokowi sekaligus membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Menurutnya, langkah tersebut diarahkan untuk mempersiapkan Gibran sebagai calon presiden pada Pemilu 2029.

Analogi Bangsa Kambing dan Bangsa Kodok

Dalam bagian lain ceramahnya, Amien menggunakan dua analogi yang menurutnya menggambarkan perilaku masyarakat terhadap kekuasaan.

Ia mengutip seorang penulis Amerika bernama William J. Leader yang menggambarkan masyarakat Amerika seperti “bangsa kambing”, yakni masyarakat yang mengikuti saja arah kebijakan para penguasanya.

Salah satu bagian ceramah yang cukup menarik adalah ketika Amien Rais menggunakan analogi “bangsa kodok” untuk menggambarkan masyarakat yang perlahan kehilangan kepekaan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Ia mengutip pandangan seorang penulis Amerika, William A. Borst, yang menggunakan ilustrasi seekor kodok yang dimasukkan ke dalam panci berisi air dingin. Pada awalnya, kata Amien, kodok tersebut merasa nyaman karena air tidak membahayakan.

Ketika panci mulai dipanaskan secara perlahan dan suhu air dinaikkan sedikit demi sedikit, sang kodok terus menyesuaikan diri. Kehangatan air bahkan dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Namun, karena kenaikan suhu berlangsung perlahan, kodok tersebut tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam situasi yang semakin berbahaya. Ia tetap bertahan di dalam panci hingga air mencapai titik didih.

Ketika bahaya itu benar-benar datang, semuanya sudah terlambat. Kodok tidak lagi memiliki tenaga untuk menyelamatkan diri dan akhirnya mati.

Bagi Amien Rais, terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut secara ilmiah, pesan moral yang terkandung di dalamnya jauh lebih penting daripada perdebatan mengenai fakta biologisnya.

“Saya kira perlu sebuah eksperimen apakah cerita kodok itu benar atau tidak. Akan tetapi, pelajaran moral dari bangsa kambing dan bangsa kodok itu perlu kita renungkan,” ujarnya.

Menurut Amien, masyarakat dapat mengalami kondisi serupa apabila terlalu lama membiarkan berbagai penyimpangan berlangsung tanpa perlawanan. Ketika pelanggaran hukum, penyalahgunaan kekuasaan, praktik korupsi, manipulasi politik, atau pelemahan demokrasi terjadi secara bertahap, masyarakat berisiko menganggap semuanya sebagai sesuatu yang biasa.

Keadaan yang semula dianggap sebagai penyimpangan lambat laun berubah menjadi kebiasaan. Akibatnya, daya kritis masyarakat semakin melemah.

Mereka tidak lagi merasa terganggu oleh persoalan-persoalan yang sebelumnya dinilai berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Amien menilai, kondisi seperti itulah yang harus diwaspadai oleh bangsa Indonesia. Ia mengingatkan agar rakyat tidak larut dalam kenyamanan semu yang diciptakan oleh kekuasaan sehingga kehilangan keberanian untuk mengoreksi pemerintah ketika kebijakan dinilai menyimpang dari kepentingan rakyat.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus memelihara sikap kritis dan tidak bersikap pasif menghadapi perkembangan politik nasional. According to him, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya mengikuti arus, tetapi bangsa yang mampu menggunakan akal sehat, keberanian moral, dan kesadaran politik untuk menjaga demokrasi tetap berjalan di atas rel konstitusi.

“Bila bangsa Indonesia ingin menjadi bangsa besar yang cerdas, berdaulat, dan bermartabat, jadilah manusia dalam arti kata sebenarnya, terutama mereka yang tergolong pemimpin dalam arti luas,” tegas Amien menutup uraian mengenai analogi tersebut.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button