PARENTING

Anak dalam Asuhan Dunia Digital yang Tidak Netral

Islam memandang anak sebagai amanah, bukan komoditas. Allah Ta‘ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini tidak berhenti pada nasihat moral individual, tetapi menuntut perlindungan nyata melalui kebijakan. Negara berkewajiban memastikan anak-anak tidak tumbuh di bawah asuhan algoritma yang bekerja demi keuntungan, sementara dampak psikologis dan moralnya diabaikan.

Lebih jauh, Islam menempatkan pendidikan sebagai sarana pembentukan kepribadian. Kepribadian Islam terbentuk melalui penanaman pola pikir dan pembiasaan pola sikap Islam. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa negara berperan aktif menjaga pendidikan agar berpijak pada akidah dan adab, bukan tunduk pada selera zaman. Ilmu dan ahli ilmu (guru) menjadi perhatian penting negara dalam mengupayakan ini.

Era digital bukan sesuatu yang harus ditolak, tetapi kerusakan generasi tidak boleh didiamkan. Selama ruang digital dibiarkan berjalan tanpa nilai Islam, anak-anaklah yang paling awal akan menjadi korban.

Karena itu, mendidik anak di era digital bukan semata tanggung jawab orang tua, melainkan amanah kolektif umat. Amanah ini menuntut keberanian menata ulang arah dari individu, masyarakat, hingga sistem. Ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar menyusun kembali fondasi peradaban Islam agar terwujud kedaulatan digital di bawah penerapan Islam secara menyeluruh. Wallahu a‘lam bissawab.

Keni Rahayu, Aktivis Muslimah.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button