RESONANSI

Apa yang Salah dengan Fanatik terhadap Agama?

Belakangan ini ramai pembicaraan mengenai pernyataan dari salah seorang pejabat negara yang mengatakan, “hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama, karena semua agama itu benar di mata Tuhan”. (Baca: Letjen Dudung: Hindari Fanatik Berlebih, Semua Agama Benar di Mata Tuhan)

Dari perkataan pejabat negara tersebut, setidaknya ada dua hal yang perlu kita tekankan. Pertama, kita diminta atau dilarang memiliki sifat fanatik terhadap satu agama. Kedua, ia menyatakan bahwa semua agama itu benar di mata Tuhan.

Untuk yang pertama terkait larangan beliau untuk memiliki sifat fanatik terhadap suatu agama, perlu kita ketahui dahulu apa itu arti fanatik dan maksud dari kata fanatik?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna fanatik kurang lebih adalah suatu keyakinan untuk meyakini ajaran atau kepercayaan dengan kuat. Atau fanatik secara mudahnya bisa dipahami sebagai keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran baik itu agama, politik dan lain-lainnya.

Dalam konteks fanatik terhadap suatu agama, apakah ia termasuk hal yang tercela, sehingga kita diperintahkan untuk tidak fanatik pada satu agama yang kita yakini kebenarannya?

Pertanyaan sederhananya, apakah salah ketika kita fanatik dengan agama yang kita yakini kebenarannya, sehingga pejabat negara tersebut sampai melarang kita untuk fanatik terhadap satu agama?

Apakah salah ketika ada orang Katolik fanatik dan meyakini hanya agama Katolik saja yang benar? Apakah salah jika ada orang Kristen Protestan fanatik dan menganggap bahwa hanya agama Kristen Protestan yang benar? Dan apakah salah jika ada orang Islam yang fanatik dan menganggap bahwa hanya Islam agama yang benar?

Menurut hemat saya, justru fanatik dalam beragama adalah menjadi sebuah keharusan bagi setiap pemeluk agama, dan meyakini hanya agama yang diyakininya adalah satu-satunya agama yang benar. Sebaliknya sangat janggal dan aneh jika ada salah satu pemeluk agama, malah menganggap agama yang diyakininya tidak benar dan menganggap agama lain juga benar. Jelas orang seperti ini adalah orang yang linglung dan tidak memiliki pijakan yang kuat dalam keimanan.

Anda bisa bayangkan, bagaimana galaunya jika ada orang Katolik yang menganggap bahwa agama yang dianutnya bukan satu-satunya agama yang benar dan meyakini bahwa agama lain selain agama Katolik adalah agama yang benar pula. Atau ada umat Islam yang menganggap bahwa agama Islam yang dianutnya bukan satu-satunya agama yang benar dan meyakini bahwa agama selain Islam adalah agama yangjuga benar? Begitu pula umat agama lainnya.

Orang seperti ini jelas menunjukkan keraguan imannya pada agama yang diyakininya. Padahal di dalam ajaran agama manapun, soal keimanan adalah perkara pertama dan utama yang harus ditekankan kepastiannya. Tidak boleh ada keraguan dalam soal keimanan kita pada kebenaran suatu agama yang kita pilih. Orang Kristen yakin dengan kebenaran agama Kristen, orang Islam yakin dengan kebenaran agama Islam dan begitupun pemeluk agama-agama lainnya.

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button