Awas Terjebak Syirik, Pahami Tata Cara Ziarah Kubur yang Benar
Sayangnya, sebagian peziarah justru meminta tolong atau berdoa kepada ahli kubur agar mengabulkan hajat mereka. Fenomena ini terjadi akibat kurangnya pencerahan dari para ustadz atau kiai.
Ketidakpahaman dalam bertawasil membuat narasinya keliru besar, yakni berdoa dan memohon kepada ahli kubur untuk mengabulkan hajat. Sebagai contoh, ada video viral yang memperlihatkan sekelompok orang di makam berucap secara berulang-ulang, “Ya Habib Husen, kabulkan hajat kami.”
Narasi seperti itu jelas merupakan bentuk doa dan permohonan pertolongan kepada Habib Husen. Alih-alih mendapat pahala dari Allah Swt., mereka justru terjebak dalam dosa syirik yang sangat dibenci Allah Swt.
Oleh karena itu, kita merasa kasihan kepada mereka yang terjebak dalam kesyirikan akibat ketidaktahuan. Orang-orang seperti inilah yang wajib kita tolong dengan memberikan pencerahan yang baik.
Adapun tawassul yang disepakati oleh para ulama meliputi tiga hal: bertawasil dengan menyebut nama dan sifat Allah Swt. (al-asmaul husna), bertawasil dengan amal salih yang telah dilakukan, serta bertawasil melalui doa orang salih yang masih hidup.
Dalam Al-Qur’an, kata wasilah digunakan oleh Allah Swt. sebanyak dua kali. Pertama, dalam Surah Al-Ma’idah ayat 35:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 35)
Kedua, dalam Surah Al-Isra’ ayat 56–57:
قُلْ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا . أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mampu mengelakkan bahaya dari kamu dan tidak (pula) memindahkannya.’ Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 56–57)
Menurut para mufasir, yang dimaksud dengan wasilah pada ayat di atas adalah iman dan amal salih, atau jalan yang digunakan seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., seperti memperbanyak ibadah, berbuat kebajikan, menegakkan budi pekerti luhur, dan mengasihi sesama.
Pandangan lain menyebutkan bahwa wasilah adalah meminta pertolongan kepada orang lain yang masih hidup untuk membacakan doa kepada Allah Swt. Hal ini pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi saw. yang meminta beliau untuk mendoakan mereka. Umar bin Khattab juga pernah meminta Ibnu Abbas (paman Nabi saw.) membaca doa saat melaksanakan salat istisqa (meminta hujan).
Menurut Prof. Dr. Mutawalli al-Sya’rawi, sikap para sahabat Nabi saw. tersebut didasarkan pada hadis riwayat Imam Muslim, Abu Daud, Imam At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i. Oleh karena itu, meminta tolong kepada orang yang masih hidup agar mendoakan kita tidak dilarang oleh agama, dan inilah yang dimaksud wasilah melalui doa Nabi saw., para wali, serta orang-orang salih lainnya.
Namun, bertawasil kepada orang yang sudah meninggal dunia—dalam pandangan Al-Sya’rawi yang dikutip dari Ibnu Taimiyah—tergolong perbuatan syirik. Sebab, untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., seseorang tidak perlu menyandarkan diri pada roh atau kesalehan orang yang telah meninggal dunia dan menjadikannya perantara.



