Bencana Akidah Lebih Bahaya dari Bencana Banjir
Hamka dalam “Tafsir Al-Azhar” ketika menafsirkan Ali Imran: 85 menjelaskan bahwa, “Islam adalah agama penyempurna dan satu-satunya jalan keselamatan setelah diutus Nabi Muhammad ﷺ; maka memilih agama lain berarti memilih jalan yang salah.”
Keyakinan tentang Islam satu-satunya jalan kebenaran ini, perlu ditanamkan kepada murid-murid dari SD sampai perguruan tinggi. Bila keyakinan ini dirusak, maka rusaklah agama Islam. Selain itu rusaklah keyakinan dalam diri murid tentang kebenaran dan kehebatan Islam.
Kini di tengah-tengah derasnya arus informasi dan globalisasi, keyakinan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar ini terus digerus. Baik dengan paham pluralisme agama, kurikulum cinta dan lain-lain. Sehingga banyak ditemui anak-anak muda sekarang yang ragu terhadap agamanya. Banyak anak muda saat ini yang orientasi hidupnya adalah dunia dan menganggap bahwa agama adalah tidak penting. Mereka tidak sadar telah menganut kehidupan sekuler.
Rasulullah saw adalah manusia sempurna, insan kamil. Kesempurnaan beliau bukan dalam arti sifat ketuhanan, tetapi sempurna sebagai manusia, teladan bagi umat. Beliau tegas dalam masalah akidah, tapi lembut dalam toleranasi. Ketika kaum Quraisy menawarkan kompromi akidah—menyembah Allah setahun, menyembah berhala setahun—Allah langsung menurunkan surat Al-Kafirun, yang ditutup dengan: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”
Ketika Rasulullah ditawari kekayaan, kekuasaan, dan popularitas untuk menghentikan dakwah, Rasulullah ﷺ menjawab,“Demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya.”
Pernah suatu saat Rasulullah ﷺ berdiri menghormati jenazah Yahudi yang lewat. Ketika sahabat bertanya, beliau menjawab, “Bukankah dia juga manusia?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau pernah menjenguk tetangga Yahudi yang sakit. Orang Yahudi itu dulunya sering mengganggu, menfitnah bahkan pernah meludahi beliau. Sikap Rasulullah yang lembut ini membuat orang Yahudi itu masuk Islam tanpa paksaan.
Sahabat-sahabat beliau, seperti Umar bin Khattab, Muadz bin Jabal, Khalid bin Walid dan lain-lain masuk Islam, juga karena akhlak Rasulullah saw. Beliau tegas dalam ibadah tapi bagus dalam toleransi.
Jiwa kepemimpinan dan kehebatan Islam inilah yang harus ditanamkan pada para pemuda Islam. Bukan jiwa yang menganggap bahwa semua agama sama mengajarkan kebaikan dan cinta, sehingga tidak tumbuh semangat dakwah untuk mengislamkan mereka.
Rasulullah selalu menanamkan bahwa hanya Islam agama Tauhid yang benar. Selain Islam adalah syirik dan jalan yang sesat. Tugas para Rasul/Nabi adalah mengajak mereka ke jalan Islam menuju keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu alimun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






