Beramal Terbaik dengan Ilmu
Ahsanul amal adalah amal yang terbaik. Yaitu amal yang memenuhi dua kriteria, yaitu niat ikhlas karena Allah SWT dan cara melaksanakan amal tersebut benar sesuai tuntunan dari Nabi Muhammad Saw.
Allah SWT berfirman:
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).
Karenanya manusia akan diuji oleh Allah SWT dengan perintah dan larangan-Nya. Siapa yang paling taat maka ia akan beruntung.
Sebagai contoh, Allah SWT memerintahkan manusia untuk masuk ke dalam Islam secara kaaffah, untuk shalat, zakat, puasa, berhaji, berdakwah, hingga berjihad di jalan Allah SWT.
Semua perintah itu terdapat dalam Al-Qur’an, dan bagaimana tata cara pelaksanaan perintah Allah SWT tersebut, dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Saw melalui perbuatan, perkataan, bahkan hingga diamnya beliau.
Karenanya untuk mengetahui bagaimana tata cara pelaksanaan perintah tersebut wajib kita gali dan pelajari dari hadits-hadits Rasulullah Muhammad Saw. Dan proses mempelajarinya tersebut disebut dengan thalabul ilmi atau proses menuntut ilmu.
Karenanya menuntut ilmu dalam Islam menjadi wajib. Sebab dengan ilmu inilah seseorang akan Allah SWT mampukan untuk beramal saleh, beramal terbaik (ahsanul amal). Dan yang akan mengantarkan bagi para penuntut ilmu keutamaan-keutamaan sebagai seorang penuntut ilmu, yaitu ditinggikannya derajat bagi para penuntut ilmu.
Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah : 11).
Seorang muslim tidak boleh mengarang sendiri dalam melakukan sebuah amal saleh. Ia wajib ittiba’ mengikuti meneladani Baginda Rasulullah Muhammad Saw bagaimana cara melakukannya.
Sebagai contoh Al-Qur’an memerintahkan seorang muslim untuk shalat. Maka menjadi wajib untuk mengikuti bagaimana Rasulullah Muhammad Saw shalat. Tidak boleh menyelisihinya.
Termasuk perintah untuk menutup aurat bagi wanita, wajib mengikuti bagaimana Rasulullah Saw memerintahkan istri-istrinya, anak perempuannya dan wanita muslimah lainnya menutup aurat dalam kehidupan umum.
Pun dengan sejumlah larangan yang Allah SWT tetapkan. Misalnya saat Allah SWTmelarang mencuri,maka wajib bagi manusia untuk meninggalkan aktivitas mencuri. Termasuk bagaimana menghukum para pencuri, harus mengikuti contoh dari Baginda Rasulullah Saw.
Jelaslah jika perintah dan larangan yang Allah SWT tetapkan akan menjadi ujian bagi setiap manusia. Barangsiapa yang taat dengan perintah dan larangan dari Allah SWT, maka ia akan menjadi orang-orang yang beruntung, dan barangsiapa yang tidak taat dengan perintah dan larangan dari Allah maka ia akan menjadi orang-orang yang merugi.
Sebab ketaatan akan membuat Allah SWT ridha, dan ketidaktaatan akan membuat Allah SWT murka. Keridaan Allah SWT terhadap seorang hamba akan menjadikannya masuk ke dalam surga-Nya sebaik-baiknya tempat kembali. Dan kemurkaan Allah SWT akan menjadikan seorang hamba masuk dalam api neraka seluruh-buruknya tempat kembali.
Karenanya menjadi penting untuk benar-benar ittiba’ mengikuti meneladani Rasulullah Muhammad Saw, dalam seluruh amal perbuatan, dalam seluruh aspek kehidupan, mulai urusan pribadi, masyarakat, bahkan hingga negara. Dari aspek ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, keamanan dan pertahanan, hingga politik, betul-betul harus ittiba’ mengikuti meneladani Baginda Rasulullah Muhammad Saw. Sehingga Allah SWT turunkan berkah-Nya dari atas langit dan bumi.
Demikianlah kewajiban menuntut ilmu, semata agar manusia mampu melaksanakan amal saleh, amal terbaik, ahsanul amal yang Allah SWT ridhai. Sebab hanya ilmu saja yang dapat menuntun seorang hamba untuk melakukan amal saleh, menjadi cahaya bagi para penuntutnya, dan menjadi jalan masuk ke dalam surga-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim). Wallahualam.
Ayu Mela Yulianti, S.Pt., Pegiat Literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik.






