Berenang di Pesisir Khan Younis, Momen Langka Anak-Anak Gaza Lepas dari Trauma
Urgensi kehadiran program pendampingan psikologis ini kian nyata jika melihat besarnya dampak perang terhadap anak-anak. Data Pemerintah Gaza mencatat lebih dari 21.500 anak Palestina tewas sejak Oktober 2023, sementara ribuan lainnya menderita luka-luka, kehilangan orang tua, hingga kehilangan tempat tinggal.
Direktur Rumah Sakit Jiwa Gaza, Abdullah al-Jamal, menegaskan bahwa kondisi psikologis anak-anak di Gaza saat ini sudah berada pada taraf yang sangat memprihatinkan.
“Anak-anak merasa tidak aman dan takut, yang berdampak negatif terhadap kehidupan mereka serta berisiko menimbulkan trauma dan gangguan jangka panjang,” papar al-Jamal.
Survei pada 2024 mengungkapkan fakta bahwa 96 persen anak-anak di Gaza merasa dibayang-bayangi oleh kematian, sedangkan 92 persen di antaranya kesulitan beradaptasi dengan kondisi trauma yang ada.
Ismail Qudaih (12), bocah asal Khan Younis, mengaku bahwa kegiatan berenang telah menghadirkan titik terang kebahagiaan di tengah duka mendalam. Aktivitas ini membantunya mengalihkan pikiran dari trauma atas kehilangan ibu dan tiga saudara kandungnya.
“Ketika saya masuk ke dalam air, saya merasa berbeda. Untuk sementara, saya berhenti memikirkan perang dan segala hal yang menimpa keluarga saya. Saya bisa berenang, bermain, dan tertawa bersama anak-anak lainnya,” ujarnya.
Ayah Ismail, Ibrahim Qudaih, mengaku sangat terharu dapat melihat putranya kembali tersenyum dan bermain leluasa.
“Anak-anak di Gaza membutuhkan tempat di mana mereka bisa merasa aman dan sekadar menjadi anak-anak. Mereka perlu bermain, berolahraga, tertawa, dan bertemu dengan anak-anak lain. Hal-hal ini mungkin tampak kecil, tetapi bagi seorang anak yang telah kehilangan ibu dan saudara-saudaranya, hal-hal tersebut dapat membuat perbedaan yang sangat besar,” ungkap Ibrahim.[]
Pewarta: Xinhua





