NUIM HIDAYAT

Bersama Dewan Da’wah Wujudkan Indonesia Adil Makmur

Untuk menanggulangi Kristenisasi, Natsir aktif menggerakkan kader-kader Muslim untuk membendung arus Kristenisasi. Ia pun aktif menulis buku-buku seputar Kristenisasi. Meskipun berteman dengan sejumlah tokoh Kristen, Natsir tidak rela umat Islam menjadi sasaran gerakan pemurtadan melalui kristenisasi.

Berikut ini sebuah contoh imbauan M Natsir kepada kaum Kristen di Indonesia: “Marilah saling hormat menghormati identitas kita masing-masing agar kita tetap bertempat dan bersahabat baik dalam lingkungan “Iyalullah” keluarga Tuhan yang satu ini. Kami umat Islam tidak apriori menganggap musuh terhadap orang-orang yang bukan Islam. Tetapi tegas pula Allah SWT melarang kami bersahabat dengan orang-orang yang mengganggu agama kami, agama Islam. Malah kami akan dianggap zalim bila berbuat demikian (Al Mumtahanah)…Sebab kalaulah ada sesuatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini.”

Tantangan dakwah kedua yang disebutkan M Natsir adalah sekulerisasi. Dalam pesannya kepada generasi Amien Rais dan kawan-kawan, Natsir menyatakan bahwa selain timbul secara alamiah, akibat perkembangan ilmu dan teknologi, sekulerisasi juga dilakukan secara aktif oleh sejumlah kalangan. Menurutnya sekulerisasi otomatis akan berdampak pada pendangkalan aqidah.

Tentang hal ini M Natsir menyatakan,”Proses sekulerisasi ini amat nyata terutama dalam sistem pendidikan kita. Pelajaran atau pemahaman agama diberikan bukan saja dalam content yang terbatas, tetapi diberikannya pelajaran lain yang isinya mengaburkan atau bahkan bertentangan dengan tujuan mendidik manusia religious. Proses sekulerisasi juga menggunakan jalur publikasi dan media massa. Baik dalam bentuk buku-buku maupun tulisan. Dalam kaitan ini saya mengajak pada para intelektual Muslim khususnya untuk memikirkan bagaimana menghadapi arus sekulerisasi ini, baik yang terjadi secara alamiah maupun yang disengaja.”

Tantangan yang ketiga disebut M Natsir adalah nativisasi. Upaya ini dilakukan baik secara sistematis atau tidak, untuk mengecilkan dan menafikan peran Islam dalam pemebntukan kebudayaan Indonesia. Islam dianggap sebagai barang asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa.

Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M Natsir menulis sebuah artikel berjudul ‘Jangan Berhenti Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut’. Melalui artikelnya ini Natsir menggambarkan kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan: “Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna dibiarkan begitu saja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang di luar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat.”

Untuk mencapai tujuan kehidupan, Pak Natsir berpesan agar jangan berhenti berjuang. Sebab, tujuan belum sampai. Dalam istilah Pak Natsir,”Untuk itu perlu saudara berdayung. Untuk ini saudara harus berani mencucurkan keringat. Untuk ini saudara harus berani menghadapi lapangan perjuangan yang terbentang di hadapan saudara, yang masih terbengkalai.”

Dikutip dari buku terbaru karya Dr Adian Husaini, “Bersama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Mewujudkan Indonesia Adil Makmur 2045.”

Nuim Hidayat

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button