OASE

Bertemu dan Berpisah karena Allah

Islam tidak melarang seseorang bersedih karena perpisahan. Sebaliknya, kesedihan adalah fitrah yang Allah Swt., tanamkan dalam hati manusia.

Akan tetapi, kesedihan tersebut perlu diiringi dengan keikhlasan, doa, dan husnudzan kepada Allah Swt., bahwa setiap perpisahan menyimpan hikmah yang mungkin belum dapat dipahami saat ini.

Hari ini, penulis kembali belajar tentang makna pertemanan dari adik-adik mahasiswa. Melihat perjalanan yang mereka lalui bersama, berbagai pengalaman yang mereka hadapi, serta suka duka yang mereka lewati dalam satu fase kehidupan, membuat ikatan emosional di antara mereka tumbuh begitu kuat.

Karena itu, ketika mereka harus menghadapi perpisahan dengan salah seorang teman mereka, rasa sedih dan kehilangan menjadi sesuatu yang sangat wajar.

Momen tersebut mengingatkan bahwa pertemanan yang dibangun di atas kebersamaan, perjuangan, dan nilai-nilai kebaikan akan meninggalkan jejak yang mendalam di hati. Semakin tulus sebuah hubungan dijalani, semakin besar pula rasa kehilangan yang dirasakan ketika perpisahan datang menghampiri. Namun, perpisahan bukanlah akhir dari sebuah pertemanan.

Jika perpisahan terjadi karena tuntutan pekerjaan, pendidikan, atau jarak, jangan biarkan jarak memutuskan tali ukhuwah yang telah terjalin. Ingatlah bahwa hubungan yang dibangun karena Allah Swt., tidak akan mudah hilang hanya karena terpisah ruang dan waktu. Tetap saling mendoakan, menjaga komunikasi, dan menyimpan kenangan baik adalah cara untuk merawat pertemanan. Sebab dalam Islam, salah satu bentuk cinta yang paling tulus adalah tetap mendoakan kebaikan bagi teman, bahkan ketika ia sudah tidak lagi berada di dekat kita.

Dengan demikian, pertemanan dalam Islam bukan hanya tentang siapa yang hadir dalam kehidupan kita, tetapi juga tentang bagaimana kita saling membawa kepada kebaikan.

Teman yang sejati bukan sekadar menemani perjalanan hidup, melainkan juga membantu kita tetap berada di jalan yang diridhai Allah Swt.

Karena itu, pertemanan yang dilandasi iman dan dijaga dengan ketulusan akan menjadi salah satu nikmat yang tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga bernilai hingga akhirat. Semoga.[]

Oleh: Husnul Khotimah, Dosen STIS Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button