Iran, Musuh atau Sahabat?
“Jika bukan karena dukungan Iran terhadap perlawanan, kami tidak akan memperoleh kemampuan militer ini. Iran memberi kami senjata, peralatan, serta dukungan teknis dan finansial.” (Pidato Yahya Sinwar Kepala Biro Politik Hamas di Gaza pada 2019)
Lebih lanjut Sinwar menyatakan, โBangsa Arab telah meninggalkan kami pada saat-saat sulit, sementara Iran mendukung kami dengan senjata, perlengkapan, dan keahlian.โ Menurutnya, Rudal Grad dan Fajr yang digunakan Hamas berasal dari Iran atau dibuat dengan bantuan teknis Iran. Republik Islam Iran memberikan uang, pelatihan, dan teknologi yang memungkinkan Hamas mengembangkan roket sendiri.
Dalam kesempatan lain, Yahya Sinwar berkata, โIran layak mendapat kredit terbesar karena membangun kekuatan kami. Iran memberi kami senjata dan uang, tanpa itu kami tidak akan mencapai titik ini.โ Sang mujahid ini berkata, โHubungan kami dengan Republik Islam Iran sangat kuatโฆ mereka memberi kami banyak uang, peralatan dan keahlian yang memungkinkan perkembangan besar kemampuan kami.โ
Hubungan Hamas dengan Iran ini sangat dekat. Hal itu ditandai dengan kunjungan pemimpin Hamas Ismail Haniyah ke Teheran untuk menghadiri pelantikan presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian. Sayangnya agen-agen Mossad di Iran telah merancang pembunuhan terhadapnya. Haniyah terbunuh oleh bom di wisma penginapannya di Teheran pada 02.00 dinihari, 31 Juli 2024. Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei memimpin doa pemakamannya di Teheran. Jenazahnya kemudian di bawa ke Lusail, Qatar.
Iran sangat terpukul dengan kejadian itu karena ia dianggap tidak bisa melindungi tamu resmi kenegaraannya. Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan bahwa Iran menganggapnya sebagai kewajiban untuk menuntut balas atas pembunuhan tersebut.
Mantan Presiden Mahmud Ahmadinejad pernah mengatakan bahwa sekitar 20 perwira intelijen Iran yang bertugas melawan Mossad ternyata justru bekerja untuk Mossad. Menurut Ahmadinejad, para agen tersebut bahkan terlibat dalam pencurian dokumen nuklir Iran dan pembunuhan ilmuwan Iran.
Bila kini Iran menjadi musuh dan diperangi Amerika Serikat dan Israel, maka hubungan Iran dengan kedua negara imperialis itu pernah mesra. Yaitu di masa Reza Pahlavi (1941โ1979) berkuasa. Saat itu Amerika membantu militer, ekonomi, dan program nuklir sipil Iran. Pada 1957 kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama nuklir dalam program Atoms for Peace. Selain itu saat itu juga terjadi Kerjasama erat Badan Intelijen Iran SAVAK dengan Mossad. Banyak teknisi Israel bekerja di Iran dalam bidang pertanian, kesehatan, dan militer. Pada 1977 Iran dan Israel bahkan menjalankan proyek misil bersama bernama Project Flower.
Tapi semuanya itu berubah, pada Revolusi Iran 1979. Saat ulama dan rakyat Iran menggulingkan Shah Reza Pahlavi pada 1979. Setelah revolusi, Iran langsung memutus hubungan dengan Amerika dan Israel. Ayatullah Khomeini menyebut Amerika dan Israel adalah musuh Iran. Amerika disebutnya sebagai The Great Satan.
Bila di masa Pahlavi terjadi penyiksaan dan pembunuhan terhadap para ulama, maka di masa Revolusi, para ulama dimuliakan. Ulama bahkan memimpin pemerintahan dan kehidupan di Iran menjadi lebih makmur. Kehidupan kaum Sunni di Iran pun makin lama mengalami perbaikan. Terdapat lebih dari 10.000 masjid Sunni di Iran, diantara terdapat di Kurdistan, Sistan-Baluchistan, Hormozgan dan lain-lain. Jumlah penduduk Sunni di Iran diperkirakan 7-10 persen dari total jumlah penduduk Iran 92 juta jiwa.
Sejak revolusi Islam Iran 1979, Amerika mulai merancang untuk memerangi Iran. Amerika khawatir pengaruh revolusi ini akan menyebar ke Timur Tengah. Pemerintah Amerika di bawah Ronald Reagan kemudian mendekati Saddam Hussein melobinya untuk memerangi Iran. Saddam kemudian memerangi Iran, hingga terjadi Perang Iran-Irak dari tahun 1980-1988.
Setelah perang dengan Iran, hutang Irak ke luar negeri membengkak hingga 80 miliar dolar AS. Hutang itu terutama ke Arab Saudi dan Kuwait. Saddam meminta Kuwait menghapus hutangnya, tapi Kuwait menolak. Maka Saddam marah, dan kemudian pada 2 Agustus 1990, tentara Irak masuk ke Kuwait. Dalam dua hari, Kuwait berhasil diduduki oleh Irak. Saddam kemudian mengumumkan bahwa Kuwait menjadi provinsi ke-19 Irak.
Emir Kuwait, Jaber Al-Ahmad Al-Sabah, melarikan diri ke Saudi Arabia. Raja Fahd Saudi saat itu, kemudian meminta bantuan militer dari Amerika. Amerika kemudian meluncurkan operasi militer Operation Desert Shield, untuk melindungi Arab Saudi dari kemungkinan serangan Irak. Dan pada Februari 1991, meluncurkan Operation Desert Storm untuk membebaskan Kuwait dari pendudukan Irak.






