Kekuatan Silaturahmi
Di bulan Syawal biasanya banyak acara silaturahmi. Silaturahmi keluarga, silaturahmi teman se kantor, silaturahmi teman di waktu kecil dan lain-lain. Budaya silaturahmi Idulfitri ini adalah salah satu budaya khas Nusantara yang Islami.
Ṣilah bermakna menyambung/menghubungkan. Raḥim = rahim (kekerabatan/ hubungan keluarga/kasih sayang). Memang makna asli silaturahmi menyambung kekerabatan keluarga. Tapi kini makna itu diperluas dengan menghubungkan kasih sayang kepada manusia. Bahkan dibolehkan juga silaturahmi dengan kerabat non Muslim.
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al Mumtahanah 8)
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya (orang tuamu) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, namun pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman 15)
Tentu silaturahmi dengan sesama Muslim berbeda dengan silaturahmi dengan non Muslim. Beberapa hal yang dibatasi dalam silaturahmi non Muslim adalah tidak ikut dalam ritual ibadah agama mereka, tidak menyetujui hal yang bertentangan dengan akidah dan tetap menjaga prinsip keimanan.
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رضي الله عنهما قَالَتْ: قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قُلْتُ: قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ.
Dari Asma binti Abu Bakar r.a., ia berkata: Ibuku datang kepadaku dalam keadaan masih musyrik pada masa Rasulullah ﷺ. Lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ, aku berkata: “Ibuku datang kepadaku dan ia ingin menjalin hubungan, apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku?” Beliau menjawab: “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Peperangan di dunia, seringkali terjadi karena tidak adanya silaturahmi. Tidak adanya saling kenal mengenal. Adanya prasangka yang buruk terhadap yang lain. Al-Qur’an mengingatkan,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahmi). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. an Nisa’ 1)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (lita‘ārafū). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (al Hujurat 13)






