OASE

Ceramah Kok Pasang Tarif?

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَىٰ بِهِ وَجْهُ ٱللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِّنَ ٱلدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ ٱلْجَنَّةِ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ، يَعْنِي رِيحَهَا.

“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ditujukan untuk meraih ridha Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk memperoleh materi duniawi, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

Sungguh berat ancaman tersebut, hingga pelakunya tidak dapat mencium bau surga. Larangan ini menegaskan bahwa kegiatan dakwah atau ceramah yang ditujukan semata-mata untuk meraup honor dilarang dalam Islam. Hal itu mencerminkan ketiadaan keikhlasan karena Allah Swt.

Profil dai semacam ini biasanya tidak bersedia berceramah jika nilai amplop tidak sesuai dengan tarif yang ia tetapkan.

Boleh Menerima Bisyarah

Kendati demikian, bukan berarti seorang dai atau penceramah dilarang menerima bisyarah atau honor atas aktivitasnya. Hanya saja, materi bukanlah tujuan utama dalam berdakwah.

Jika diberi amplop, ia bersyukur berapa pun nilainya. Apabila tidak mendapat honor pun, hal tersebut tidak menjadi masalah.

Sebagaimana hadis dari sahabat Abdullah bin Abbas r.a., Rasulullah saw bersabda:

إنَّ أحقَّ ما أخذتُم عليه أجرًا كتابُ اللهِ

“Sesungguhnya upah yang paling berhak kamu dapatkan adalah upah dari mengajarkan Al-Qur’an.” (HR. Az-Zarqani, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’).

Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair hafizhahullah menerangkan makna hadis ini:

فإذا جاز هذا في القرآن ففي غيره من باب أولى.

“Jika mengambil upah dari mengajar Al-Qur’an dibolehkan, mengambil upah dari mengajar ilmu lainnya tentu lebih dibolehkan.”

Hadis ini berlaku bagi dai yang tidak menjadikan dunia atau upah sebagai niat utama. Niat utamanya tetap mengharapkan pahala dan surga Allah SWT.

Hakekat Ikhlas dalam Berdakwah

Ikhlas dalam berdakwah adalah sikap menyampaikan ajaran Islam semata-mata karena mengharap keridhaan Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian, popularitas, kedudukan, atau materi.

Perintah untuk ikhlas beramal dan berdakwah datang langsung dari Allah Swt dan Rasul-Nya. Allah Swt berfirman:

قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.'” (QS. Az-Zumar: 11).

Orang yang ikhlas menghendaki pahala akhirat, bukan balasan duniawi. Allah Swt berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20).

Rasulullah saw bersabda:

فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ

“Barang siapa di antara mereka beramal dengan amalan akhirat untuk tujuan dunia, ia tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Ahmad).

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button