MUHASABAH

Dakwah yang Berpindah Arah

Ada kalanya semangat dakwah itu meluap‑luap, tapi arahnya melenceng. Ibarat kapal tanpa kompas—terlihat berlayar jauh, tapi tak pernah sampai. Banyak yang sibuk di pinggiran, tapi lalai pada pusatnya. Yang fardhu diabaikan, yang sunnah dijaga mati‑matian.

Kini kita melihat fenomena “dakwah panjat eksistensi”. Halaqah kosong, pembinaan longgar, laporan kader menipis. Tapi ketika ustaz nasional datang mengisi kajian, tiket langsung diserbu. “Yang penting depan, meski bayar!” katanya. Ironinya, agenda jamaah sendiri malah sepi peserta—yang hadir cuma angin.

Lebih ironis lagi, sebagian dai berubah jadi pengelana spiritual versi modern. Roadshow ke sana ke mari, bergaya depan spanduk dan kamera, tapi lingkungan sekitarnya tetap gelap. Masjid sekitar muram, tetangga tak tersentuh dakwah, remaja lokal kehilangan arah.

Dakwah Itu Menumbuhkan, Bukan Melancong

Dakwah sejatinya bukan tur keliling. Ia adalah kerja menanam—menumbuhkan kebaikan di tanah tempat kita berpijak. Rasulullah Saw memulai dari yang terdekat, bukan dari yang terjauh. Allah berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين

“Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (QS. Asy‑Syu‘arâ: 214)

Dari keluarga ke sahabat, dari sahabat ke masyarakat. Itulah skala prioritas yang Rasulullah tegakkan. Bukti bahwa dakwah bukan soal seberapa banyak panggung kita injak, tapi seberapa dalam akar kita menembus bumi tempat berpijak.

Pelajaran dari Ulama Klasik

Imam Al‑Ghazali mengingatkan dalam Ihya’ ‘Ulum ad‑Din bahwa banyak orang “tertipu dalam amal ketaatan” karena sibuk pada amal sunnah sementara kewajiban utama terabaikan. Ia menulis bahwa “Mengabaikan urutan prioritas dalam amal adalah bentuk keburukan terselubung.”

Sementara Ibnu Taimiyah menyatakan, manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi masyarakatnya. Pemerintah, lembaga, dan individu wajib menata kehidupan sosial di bawah cahaya syariat agar makmur dunia dan akhirat. Dakwah, bagi beliau, bukan sekadar menyampaikan, tapi juga membangun kehidupan Islam yang nyata di masyarakat.

Rasulullah dan Fiqh Prioritas

Dalam hadis sahih, Rasulullah menasihati Muadz bin Jabal sebelum diutus ke Yaman:

إِنَّكَ تَقْدُمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab, maka jadikanlah dakwah pertamamu adalah agar mereka mengesakan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah dasar fiqh prioritas: tegakkan tauhid, kokohkan dasar, lalu kembangkan cabang. Jangan terbalik—sibuk mendekorasi dinding tapi fondasi rumahnya retak.

Eksis atau Bermanfaat?

Kalau dakwah hanya berhenti di eksistensi, maka kita sedang menukar substansi dengan sensasi. Dakwah semestinya menjadikan lingkungan kita lebih hidup, bukan sekadar memenuhi feed media sosial dengan kutipan bijak. Sebab ukuran dakwah bukan “seberapa viral,” tapi “seberapa nyata mengubah”.

1 2Laman berikutnya
Back to top button