#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Diplomasi Abbas Araghchi

Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.

Abbas Araghchi adalah representasi unik dari perpaduan idealisme revolusioner dan pragmatisme diplomatik. Lahir di Tehran pada 1962 dari keluarga pedagang karpet Isfahan, ia sejak remaja terlibat dalam Revolusi Islam 1979 dan kemudian bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam, bertempur dalam Perang Iran-Irak selama hampir sepuluh tahun.

Araghchi juga seorang intelektual bergelar doktor dalam pemikiran politik dari University of Kent, Inggris, dengan disertasi tentang evolusi konsep partisipasi politik dalam pemikiran Islam abad ke-20. Kombinasi langka ini membentuk diplomat yang mampu berbicara dalam dua bahasa—bahasa keras kaum revolusioner dan bahasa diplomasi internasional.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. 

Diplomat Revolusioner

Karier diplomatiknya yang cemerlang dimulai pada 1989 dan membawanya ke berbagai posisi strategis: duta besar untuk Finlandia (1999-2003) dan Jepang (2008-2011), direktur jenderal Institut Kajian Politik dan Internasional (IPIS), dekan Sekolah Hubungan Internasional, hingga akhirnya dipercaya sebagai menteri luar negeri pada Agustus 2024.

Pengalamannya sebagai negosiator nuklir utama dalam perundingan P5+1 yang menghasilkan JCPOA 2015 menunjukkan kemampuannya yang diakui secara internasional. Pengangkatannya kembali oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sebagai sekretaris Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri setelah sempat tersingkir pada 2021 membuktikan bahwa keahliannya tidak tergantikan dalam arsitektur kebijakan luar negeri Iran.

Gaya Bazaar

Dalam bukunya Negotiations: The Power of Diplomacy (2024), Araghchi dengan brilian memaparkan filosofi negosiasi Iran yang ia sebut sebagai “gaya pasar” (bazaar style)—sebuah pendekatan yang lahir dari kearifan lokal dan tradisi tawar-menawar yang telah berabad-abad mengakar dalam budaya Persia.

Gaya ini mengajarkan bahwa negosiator yang baik adalah mereka yang memiliki kesabaran tak terbatas, mampu mengulang argumen dengan retorika berbeda, dan tidak pernah menunjukkan kelelahan di hadapan lawan. Inilah yang disebutnya sebagai “wajah diplomat yang tak terduga” (inscrutable face) dengan kemampuan untuk tetap tenang dan tidak terbaca di saat-saat kritis.

Pendekatan ini terbukti efektif dalam berbagai perundingan rumit, termasuk negosiasi nuklir yang menghasilkan kesepakatan bersejarah pada 2015. Kemampuan Araghchi membaca lawan dan menemukan celah kompromi menunjukkan bahwa diplomasi bukan sekadar adu argumen, tetapi seni memahami psikologi dan kepentingan pihak lain. Dalam tradisi diplomasi dunia, pendekatan ini sejalan dengan apa yang dipraktikkan oleh para diplomat ulung sepanjang sejarah—dari Kautilya dalam Arthashastra yang menekankan pentingnya upaya damai sebelum perang, hingga para negosiator Byzantium yang memandang diplomasi sebagai “perang dengan cara lain.”

Keunggulan gaya Araghchi terletak pada fleksibilitasnya. Ketika situasi membutuhkan konsesi besar—seperti tawaran mengencerkan 440 kilogram uranium 60% hanya 48 jam sebelum serangan AS pada Februari 2026—ia tidak ragu mengambil langkah berani. Tawaran ini, yang disampaikan melalui mediasi Oman, membuktikan bahwa di balik retorika keras, ia memahami esensi diplomasi: memberi lawan jalan mundur yang terhormat. Dalam wawancara dengan CBS News pada 15 Maret 2026, ia dengan tegas menyatakan bahwa Iran siap bernegosiasi jika kondisinya tepat, menunjukkan bahwa pintu dialog tidak pernah benar-benar tertutup.

Ketenangan di Tengah Tekanan

Salah satu kualitas paling menonjol dari Araghchi adalah ketenangannya yang luar biasa dalam menghadapi tekanan, termasuk ketika harus merespons pernyataan-pernyataan kontroversial dari para pemimpin dunia. Pada 17 Maret 2026, ketika Presiden Trump dalam sebuah wawancara mengklaim bahwa Iran ingin membuat kesepakatan tetapi ia tidak tertarik “karena persyaratannya belum cukup baik,” Araghchi merespons dengan tenang dan terukur melalui media sosial. Ia membantah telah melakukan kontak dengan Washington, dengan tegas menyatakan bahwa komunikasi terakhirnya dengan utusan AS Steve Witkoff terjadi sebelum keputusan Trump untuk membunuh diplomasi dengan serangan militer ilegal terhadap Iran.

Respons ini menunjukkan kedewasaan diplomatik yang langka. Alih-alih terpancing untuk terlibat dalam perang pernyataan yang tidak produktif, Araghchi memilih untuk mengklarifikasi fakta dengan nada yang tenang namun tegas. Ia tidak membiarkan dirinya terseret ke dalam permainan retorika yang justru dapat memperburuk situasi. Sebaliknya, ia tetap fokus pada pesan utamanya bahwa diplomasi telah “dibunuh” oleh tindakan sepihak AS, bukan oleh keengganan Iran untuk bernegosiasi.

Ketenangan yang sama juga terlihat dalam wawancaranya dengan Margaret Brennan di CBS News. Sepanjang wawancara yang berlangsung dalam situasi perang terbuka, dengan koneksi internet yang naik-turun, Araghchi tetap menunjukkan penguasaan diri yang mengesankan. Ketika ditanya tentang nasib warga Amerika yang ditahan di Iran, ia menjawab dengan tenang: “Jika AS dan Israel tidak menyerang penjara kami, saya kira mereka aman.” Jawaban ini cerdas karena sekaligus menyampaikan peringatan halus tanpa terkesan mengancam secara terbuka.

Ketika Brennan menyoroti ironi bahwa ia bisa menggunakan Zoom sementara rakyat Iran tidak memiliki akses internet terbuka, Araghchi menjawab dengan tenang bahwa ia adalah “suara rakyat Iran” yang harus didengar dunia, dan pembatasan internet adalah “tindakan darurat untuk melindungi rakyat” di masa perang. Ia tidak terpancing defensif, tetapi justru membingkai ulang isu tersebut dalam konteks keamanan nasional.

1 2Laman berikutnya
Back to top button