INTERNASIONAL

Dua Tahun Lakukan Genosida di Gaza, Israel Terpecah dan Terisolasi

Topik-topik “memalukan” seperti nasib para sandera yang masih ditahan di Gaza hampir tidak dibicarakan lagi — bahkan setelah dua tahun serangan tanpa henti oleh militer yang disebut sebagai salah satu yang terkuat di dunia.

Demikian pula, jumlah korban jiwa di Gaza, kelaparan, dan pengungsian berulang dari para penyintas juga jarang muncul dalam percakapan publik.

Luka sosial dan mental di Israel

Sementara itu, nasib para sandera terus menguasai pikiran keluarga mereka dan memicu demonstrasi besar-besaran menuntut kesepakatan politik untuk membebaskan mereka.

Kembalinya ribuan tentara cadangan ke kehidupan sipil juga membawa dampak berat — lonjakan bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga, dan epidemi gangguan stres pascatrauma (PTSD), menurut para dokter Israel.

“Dampak perang terlihat di mana-mana,” kata Goldberg.

Ia menggambarkan perilaku warga yang semakin kasar di jalan, bahkan kolam renang umum di Tel Aviv sampai harus mengeluarkan surat agar pengunjung “menghindari segala bentuk agresi fisik atau verbal”.

Politik kehilangan arah dan moralitas

Di parlemen, oposisi resmi hanya memperdebatkan detail perang, bukan keberlanjutannya. Dengan Itamar Ben-Gvir (Menteri Keamanan Nasional) dan Bezalel Smotrich (Menteri Keuangan) sebagai pilar koalisi Netanyahu, sayap kanan ekstrem kini memiliki hak veto atas kebijakan negara.

“Politik Israel sedang berjuang mempertahankan jiwanya,” kata Mekelberg. “Ini tidak dimulai oleh perang, tapi perang mempercepatnya. Akar masalahnya ada pada pemilu terakhir yang melegitimasi kekuatan-kekuatan mesianik sayap kanan melalui seorang perdana menteri yang oportunistik.”

Netanyahu bertahan dengan koalisi ekstrem

Sejak terpilih kembali pada 2022, Netanyahu terus berjuang menjaga koalisi yang goyah — sebagian karena benturan antar kebijakan sayap kanan dan sebagian karena kasus korupsinya sejak 2019.

“Netanyahu beruntung karena oposisi sangat tidak kompeten,” kata Pinkas. “Mereka kadang bergabung dengannya, memberi legitimasi, lalu pergi — seperti Benny Gantz yang masuk kabinet keamanan setelah 7 Oktober.”

“Selama Netanyahu tetap menggandeng ekstremis kanan, dia bisa bertahan,” tambahnya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button