Duka di Gaza: Iduladha tanpa Kurban
Di Gaza selatan, Mohammed Shallah berdiri di samping makam ayahnya yang tewas dalam sebuah serangan udara biadab militer Israel di Khan Younis, sembari mengenang tradisi keluarga saat Iduladha di tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu, kami pergi bersama ayah dan kerabat saya untuk memilih hewan kurban,” kata Shallah (22) kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa dia tidak lagi mampu melanjutkan tradisi yang dulunya selalu diamalkan oleh mendiang ayahnya.
“Bahkan jika ternak masih bisa ditemukan, harganya sangat mahal,” katanya.
“Saya tidak lagi mampu membeli hewan kurban sama sekali.”
Pedagang ternak Salah Afana membenarkan kepada Xinhua bahwa harga telah meroket beberapa kali lipat sejak meletusnya agresi, sementara permintaan hewan kurban hampir tidak ada lagi akibat kemiskinan yang meluas.
“Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner,” tambahnya.
“Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan sepihak pintu perlintasan oleh penjajah,” tegasnya lagi.
Raafat Asaliya, juru bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, mengatakan bahwa daerah kantong itu sebelum perang biasanya mengimpor sekitar 10.000 hingga 20.000 anak sapi dan sekitar 30.000 hingga 40.000 domba setiap tahun menjelang Iduladha.
“Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total,” kata Asaliya kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan telah hancur lebur selama agresi berlangsung.
Penghancuran area penghasil ternak di Gaza timur oleh mesin perang Zionis ini berdampak sangat parah terhadap ketersediaan hewan kurban, tegas al-Tabbaa.
“Penduduk Gaza telah kehilangan akses terhadap hewan kurban selama tiga tahun berturut-turut,” ujarnya secara lugas.
“Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Iduladha tanpa kurban yang harus dijalani oleh warga Gaza akibat kezaliman ini.”[]
Sumber: Xinhua






