#Bebaskan PalestinaOPINI

Panas Terik di Tengah Blokade Gaza

Oleh: Yanuardi Syukur (Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate)

Hampir 1,9 juta warga Gaza harus bertahan di bawah ancaman suhu yang nyaris menyentuh 40 derajat Celsius. Kondisi ekstrem ini terjadi bukan semata-mata karena faktor alam, melainkan akibat terpal, kayu lapis, dan air bersih yang sengaja ditahan di perbatasan oleh pihak Israel.

Berdasarkan laporan Shelter Cluster in Palestine yang dirilis Juni 2026, sekitar 170.000 keluarga atau hampir satu juta orang harus tinggal di dalam tenda. Sementara itu, 850.000 jiwa lainnya masih kekurangan perlengkapan darurat paling mendasar seperti terpal plastik, kayu lapis, dan tali.

Norwegian Refugee Council (NRC) menegaskan bahwa krisis ini bukan didorong oleh cuaca semata, melainkan oleh kehancuran infrastruktur, pengungsian masif, dan bantuan yang sengaja diblokir. Musim panas 2026 menghadirkan gelombang panas yang menghantam Jalur Gaza dengan suhu rata-rata 34,5°C, dan jumlah hari bersuhu di atas 35°C diperkirakan terus meningkat.

Di kawasan seperti Kamp Mawasi, suhu bahkan dilaporkan menyentuh angka hampir 40°C, sebagaimana dikutip oleh media CCTV pada 9 Juli 2026.

Tenda-tenda pengungsian yang terbuat dari kanvas tipis itu bukan lagi menjadi tempat berlindung, melainkan telah berubah menjadi perangkap maut. Suhu di dalam tenda bisa mencapai 5–7°C lebih tinggi daripada di luar berdasarkan data Kementerian Pembangunan Sosial Palestina, atau bahkan menyentuh 50°C sebagaimana disaksikan oleh para pengungsi kepada Al Jazeera.

Di dalam tenda-tenda tersebut, keluarga-keluarga terjebak tanpa kipas angin dan tanpa pasokan listrik. Mereka hanya bisa berharap pada embusan angin yang tak kunjung datang.

Krisis air bersih memperparah kondisi yang sudah sangat mengenaskan ini. Sekitar 75 hingga 80 persen populasi Gaza kini hanya bergantung pada pasokan air yang didistribusikan melalui truk tangki.

Hancurnya infrastruktur air dan sanitasi secara total memaksa warga menggunakan air laut yang telah tercemar limbah untuk mandi dan mencuci.

Di sisi lain, tumpukan sampah padat yang mencapai hampir satu juta ton membusuk di bawah terik matahari dan melepaskan gas beracun. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan hidup, melainkan sebuah ekosistem kematian yang dirancang secara sistematis di mana udara, air, dan tanah bersekongkol merenggut nyawa.

Dampaknya terhadap kesehatan masyarakat begitu menghancurkan dan tidak bisa lagi disembunyikan. Kasus sengatan panas (heatstroke) bertebaran di rumah-rumah sakit yang kekurangan pasokan listrik serta obat-obatan.

Pada saat yang sama, bayi-bayi yang mengalami malnutrisi harus berjuang melawan dehidrasi di pangkuan ibu mereka yang lemas. Anak-anak kecil mengalami ruam kulit parah akibat keringat yang tak pernah kering.

Pada awal Juli 2026 saja, lebih dari 9.000 kasus cacar air meledak di tengah kepadatan pengungsian yang tidak manusiawi. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan balita menjadi korban paling pertama dari “cuaca” yang sejatinya merupakan akibat dari kehancuran buatan manusia.

Mengapa mereka tidak bisa melarikan diri atau setidaknya memperbaiki tempat tinggal mereka? Inilah titik paling absurd dari tragedi kemanusiaan ini.

1 2Laman berikutnya
Back to top button